Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kiriman Pembaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kiriman Pembaca. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 November 2015

Petualangan Nimo di Dunia Kurcaci

0


Petualangan Nimo di Dunia Kurcaci
oleh kevin

 
Pagi itu masih dingin, Nimo mendengar Neneknya memanggil dan menyuruh dia untuk segera bangun.
“Nimo bangun!”, Nenek memanggil sambil mengetuk pintu kamar Nimo.
“Iya Nek….,” jawab Nimo sambil menyingkirkan selimut yang masih dia pakai.
Segera Nimo langsung berdiri dan berjalan membuka jendela kamarnya yang masih tertutup, ketika jendela kamar Nimo terbuka, banyak sekali Kecoa yang berlarian kesana kemari. Maklum Nimo adalah anak yang malas untuk membersihkan kamarnya, buku-buku, pakaian kotor dan mainannya berserakan di lantai, sehingga banyak Kecoa di kamar Nimo. Salah satu Kecoa hinggap di tubuh Nimo, Nimopun langsung berteriak dan berlari keluar dari kamarnya.

“Nenek, Tolong…!!,” teriak Nimo.
“Ada apa Nimo, pagi-pagi kamu sudah teriak-teriak?,” jawab Nenek sambil menyiapkan sarapan.
“Ada Kecoa Nek di kamar, terus tadi hinggap ke tubuhku,” jawab Nimo sambil melihat ke tubuhnya untuk memastikan apakah Kecoa itu masih ada apa sudah pergi.
“Salahmu sendiri, malas merapikan kamarmu makanya jadi banyak Kecoa, sudah sana mandi!, nanti kamu terlambat kesekolah,” Jawab Nenek sambil memberikan handuk kepada Nimo. Nimopun segera pergi menuju ke kamar mandi yang terletak tak jauh dari kamarnya.

Selesai mandi, Nimo langsung pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah, dengan rasa takut terhadap kecoa Nimo mulai membuka pintu kamarnya secara perlahan, “Ah…aman, untung Kecoanya sudah tidak ada lagi,” Nimo berkata di dalam hatinya. Nimo pun bergegas memakai seragam sekolahnya dan menyiapkan buku-buku pelajaran kemudian dia masukan ke dalam tas sekolahnya. Selesai bersiap-siap, Nimo langsung menuju ke meja makan, di sana Nenek sudah menunggu Nimo untuk sarapan. Nenek sudah menyiapkan Roti Bakar untuk Nimo berserta segelas susu pada pagi itu.
Nek…kenapa yah di kamarku banyak Kecoa?” tanya Nimo kepada Nenek. Nenek menjawab dengan tersenyum, “ Salahmu sendiri, Sudah besar masih malas membersihkan kamarmu, ingat besok kamu sudah berumur 8 tahun”.

“Iya Nek… hehehe, ternyata Nimo sudah besar yah Nek? Besok sudah 8 tahun umur Nimo, tapi rasanya malas untuk membersihkan kamar Nimo,” jawab Nimo sambil menyelesaikan makannya.
“Dasar kamu anak malas, ingat perkataan Ayahmu, Jadi anak laki-laki tuh harus rajin,” jawab Nenek.
“Iya Nek, Nimo kangen Nek sama Ayah, terakhir Nimo bersama Ayah, Nimo di ceritakan tentang petualangan Ayah  mengambil emas di Afrika dan tentang Dunia Kurcaci, Ayah juga berjanji akan mengajakku pergi ke Dunia Kurcaci,” jawab nimo dengan sedih.
“ Sudah-sudah itu semua hanya karangan Ayahmu, Dunia Kurcaci itu tidak ada itu semua hanya dongeng,” jawab Nenek
“Tapi Ayah tidak akan berbohong ke Nimo Nek, Nimo percaya dengan semua yang Ayah katakan, Ayah juga sudah memberikan bukti bahwa Dunia Kurcaci itu ada, di buku yang Ayah berikan ke Nimo saat ulang tahun Nimo yang ke 7 tahun lalu ada foto Putri Kurcaci yang cantik, namanya Cici,” jawab Nimo sambil menyangkal perkataan Nenek
“Iya…iya Nenek percaya dengan perkataanmu, sudah sana berangkat sekolah nanti kamu terlambat lagi,” jawab Nenek sambil memberikan tas sekolah ke Nimo
“Iya Nek, Nimo berangkat,” jawab Nimo dengan suara yang lemah. Nimopun langsung pergi menuju ke sekolahnya yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

Dalam perjalanan, Nimo teringat semua hal tentang Ayahnya yang pergi satu tahun yang lalu untuk mengambil Emas yang diperoleh di Afrika yang dia simpan di Dunia Kurcaci dan sampai sekarang belum juga kembali. Ayah Nimo pergi satu hari setelah Nimo merayakan ulang tahunnya. Ayah Nimo adalah seseorang yang sangat sayang kepada Nimo dan Ibunya yaitu Nenek Nimo. 
Sampai di sekolah, Nimo langsung duduk dan melihat buku pemberian Ayahnya, Nimo membuka halaman pertama buku itu, halaman pertama buku itu tertulis sebuah kalimat yang di tujukan kepada Nimo “Nimo, sesuatu yang tidak terlihat itu bisa menuntunmu,” nimo masih belum bisa memahami kalimat yang Ayahnya tuliskan di buku itu. Kemudian Nimo membuka halaman Ke-Dua yang berisi foto Putri Kurcaci yang bernama Cici, di bawah foto Cici si Putri Kurcaci itu tertulis beberapa kata-kata yang berbunyi “mereka memang ada dan aku menitipkan Harta Karunku di Dunia mereka, mereka dekat dengan kita, Bulan Purnama adalah jalan masuk ke Dunia mereka” kata-kata yang tertulis dan foto Cici yang terdapat di buku itulah yang membuat Nimo yakin kalau Dunia Kurcaci itu memang ada. Nimo yakin dia akan menemukan Dunia Kurcaci itu. Halaman selajutnya dari buku itu tidak ada sesuatu yang jelas, tidak ada sesuatu yang dapat Nimo baca, halam itu hanya berisi kertas kosong yang masih bersih. Tidak lama kemudian, Bu Gurupun datang, Nimo pun langsung memasukan buku itu dan siap untuk mengikuti pelajaran yang akan disampaikan oleh Bu Guru. Walaupun Nimo anak yang malas untuk membersihkan kamarnya, tetapi nilai yang Nimo peroleh di sekolah sangat baik, tak jarang dia mendapatkan peringkat Satu di kelas. 
Sekolah pun selesai, Nimo langsung bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang, Nimo masih memikirkan Dunia Kurcaci itu. Sesampainya di rumah, Nimo langsung menuju ke kamar dan ketika Nimo membuka pintu kamarnya, kejadian yang sama tentang Kecoa terulang lagi. Banyak kecoa berlarian kesana kemari, Nimo pun langsung pergi karena ketakutan melihat Kecoa-kecoa itu dan mengambil buku pemberian Ayahnya yang dia simpan di dalam tas, kemudian Nimo lemparkan tas itu ke tempat tidurnya. Akhirnya Nimo pergi dari kamarnya sambil membawa buku itu menuju ke kamar Ayahnya. Di sana Nimo berfikir mencari tahu arti dari kata-kata yang ada di dalam buku itu. Hingga tak terasa Nimo telah menghabiskan banyak waktu di sana. Haripun mulai gelap, karena lampu kamar itu mati, akhirnya Nimo mengambil sebatang lilin yang berada di Dapur dan kemudian Nimo bawa ke kamar Ayahnya. Dinyalakan lilin tersebut, Ketika Nimo akan melanjutkan membaca buku itu, tiba-tiba Neneknya memanggil Nimo. “Nimo…makan malam dulu!” teriak Nenek, “Iya Nek…,”jawab Nimo. Nimo pun langsung keluar dari kamar Ayahnya dan menuju ke meja makan, sampai di meja makan, Nimo langsung memakan makanan yang sudah Nenek siapkan dengan tergesa-gesa. “Makannya yang pelan Nimo, tidak baik,” kata Nenek kepada Nimo, Nimo pun menjawab dengan mulut penuh makanan, “Iya Nek”. Tidak lama kemudian Nimo pun sudah seleseai makan malam, Nimo langsung menuju ke kamar Ayahnya, sambil berlari Nimo berkata kepada Neneknya,”Nek..Nimo akan tidur cepat malam ini, Nimo tidur di kamar Ayah”.

Sesampai di kamar Ayahnya, Nimo kembali melanjutkan membaca buku itu, lilin pun kembali dinyalakan. Nimo mendekatkan buku itu ke lilin, agar cahaya lilin dapat menerangi Nimo saat membaca dan ketika Nimo membuka halaman kosong di dalam buku itu, ternyata halaman itu tidak lagi kosong, terdapat gambar peta dimana letak Dunia Kurcaci dan cara masuk kedalam Dunia Kurcaci itu. Nimo heran melihat halaman yang mulanya kosong, tetapi sekarang sudah berisi sebuah gambar peta, Nimo penasaran apa penyebab semua itu, ketika Nimo menjauhkan buku itu dari lilin dan ternyata gambar peta itu hilang dan ketika dia dekatkan gambar itupun muncul lagi. Akhirnya Nimo sadar dengan pesan Ayahnya kepada Nimo di buku itu, ternyata peta dalam buku itu di gambar dengan tinta yang dapat dilihat apabila ada cahaya lilin. Berkat peta itu, sekarang Nimo sudah tau dimana letak Dunia Kurcaci dan bagaimana cara masuk ke Dunia Kurcaci itu. Nimo pun berencana besok pagi dia akan mempelajari peta itu karena besok tepat hari Minggu dan malam harinya dia akan memulai petualangannya menuju Dunia Kurcaci. Nimo pun langsung bergegas untuk tidur dan dia tak sabar akan hari besok, karena Dunia Kurcaci yang ingin dia datangi  akan dapat  Nimo kunjungi dan besok Nimo juga  akan  berumur 8 tahun. 

Pagi pun datang, Nimo langsung bangun dan menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu, roti ulangtahun yang sudah di siapkan Nenek sudah terletak di atas meja berserta lilin yang sudah menyala. Nimo pun merasa sangat senang, Nimo mendekati roti ulang tahun itu, dan Nenek datang dari kamar membawa sebuah kado. “Cepat Nimo tiup lilinnya, dan mintalah sebuah keinginanmu,” kata Nenek, Nimo segera meniup lilin itu dan menyebutkan keinginannya, Nimo ingin agar ulangtahun berikutnya Ayahnya bisa ada untuk merayakan bersama ulangtahun Nimo. Setelah itu, Nimo membuk kado yang dia dapat dari Neneknya. Kado itu berisi sebuah Lensa Pembesar yang ternyata sudah di siapkan oleh Ayahnya sebelum Ayahnya pergi, Nimo sangat senang dengan hadiah itu. Selesai Nimo merayakan ulangtahunnya, Nimo bergegas menuju kamar Ayahnya untuk mempelajari peta yang ada di buku itu.

Hari itu pun Nimo hanya berada di kamar Ayahnya, banyak waktu yang dia habiskan untuk mempelajari peta tersebut. tidak sia-sia Nimo menghabiskna banyak waktu untuk mempelajari peta itu, akhirnya dia tahu jalan menuju ke Dunia Kurcaci. Ternyata pintu masuk menuju Dunia Kurcaci terletak pada Pohon Rambutan yang berada di depan rumahnya dan pintu menuju ke Dunia Kurcaci terbuka ketika cahaya bulan tepat berada di atas lobang kecil yang terletak di bagian Pohon Rambutan itu. Ternyata semua yang tertulis di buku itu benar, tetapi hanyan disampaikan secara tidak langsung oleh Ayahnya. Nimo pun segera bersiap-siap untuk melakukan petualangannya nanti malam.

Malam hari pun telah datang, setelah Nimo selesai makan malam bersama Neneknya, Nimo kembali ke kamar Ayahnya dan melihat ke jendela, ternyata Bulan Purnam telah muncul pada malam itu. Ketika Nenek sudah tertidur, Nimo diam-diam keluar dari rumah dengan hanya membawa Lensa Pembesar itu yang Nimo harap akan membawa sebuah keberuntungan. Nimo langsung menuju ke Pohon Rambutan yang ada di depan rumahnya, dan dia mencari lubang kecil yang ada di pohon rambutan itu, lumayan lama Nimo mencari lubang kecil pohon itu dan akhirnya lubang itu berhasil Nimo temukan, tetapi Cahaya Bulan Purnama tidak tepat berada di lubang yang berada di pohon rambutan. Nimo pun mencari cara agar Cahaya Bulan Purnama bisa tepat berada di atas lubang itu. Setelah lama berfikir, akhirnya Nimo berhasil menemukan cara untuk mengarahkan Cahaya Bulan Purnama, Nimo mengeluarkan Lensa Pembesar yang dia dapatkan tadi pagi, dan ternyata Cahaya Bulan Purnama dapat Nimo pantulkan, segera Nimo mengarahkan Lensa Pembesar ke arah lubang yang berada di Pohon Rambutan, ketika Cahaya Bulan Purnama berhasil Nimo arahkan tepat ke atas lubang yang berada di Pohon Rambutan, Pohon Rambutan itu bergetar dan terbukalah sebuah pintu dari balik Pohon Rambutan. Ternyata Lensa Pembesar itu benar-benar membawa sebuah keberuntungan, pintu menuju ke Dunia Kurcaci sekarang sudah ada di depan mata, Nimo segera bergegas masuk kedalam pintu itu. Dengan perasaan sangat senang Nimo mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam dan apa yang terjadi, Nimo berubah menjadi Kurcaci, Nimo berubah menjadi manusia yang kecil. Nimo kaget dengan perubahan itu, kabut putih menutupi penglihatan Nimo dan setelah kabut putih itu hilang, Nimo tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Nimo melihat sebuah kerajaan yang rakyatnya adalah para Kurcaci yang Ayahnya ceritakan, Nimo masih tidak percaya dengan semua hal yang dia lihat sekarang.

Ketika Nimo sedang berjalan-jalan melihat sebuah desa yang dihuni oleh para kurcaci, tiba-tiba dari arah depan Nimo para kurcaci itu berlarian kesana kemari sambil berteriak “Lari-lari..cepat lari,” Nimo pun bingung apa yang terjadi. Ternyata desa itu sedang di serang oleh para Prajurit dari Kerajaan Kecoa, mereka menghancurkan seisi desa dan merusak apapun yang mereka lewati. Hampir saja Nimo menjadi korban para Prajurit dari Kerajaan Kecoa, tetapi seseorang telah menyelamatkannya. Ternyata kurcaci yang menyelamatkan Nimo adalah Cici si Putri Kurcaci yang dia lihat di buku pemberian Ayahnya. Nimo tak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Cici dan diselamatkannya. Nimo pun mengucapkan terima kasih kepada Cici dan mereka saling berkenalan satu sama lain. Cici bertanya kepada Nimo, “kamu tidak apa-apa? Kamu bukan berasal dari dunia kami kan?”
“Iya aku tidak apa-apa, terima kasih telah menyelamatkanku, bagaimana kamu tahu aku bukan berasal dari dunia kalian?” jawab Nimo dengan terkejut
“Sudah kewajibanku sebagai calon pemimpin untuk melindungi rakyatku, iya jelas aku tahu, dulu ada seorang Pria yang datang kemari dan dia membantu kami dengan membuat sebuah saluran air untuk mengairi hasil kebun kami, tapi sekarang dia telah ditahan oleh Kerajan Kecoa” jawab Cici sambil berjalan mengajak Nimo ke Istana.
“Apa..!!? Ayah…, dia ayahku!!” jawab Nimo dengan terkejut karena Ayahnya masih hidup.
“ Jadi ternyata kamu anak dari Pria itu?, cepat kita ke Istana dan temui Raja.

Sesampainya di Istana, Nimo di perkenalkan dengan Raja. Cici menceritakan kepada Raja  bahwa Nimo adalah anak dari Pria yang memabantu Kerajaannya. Nimo di sambut dengan hangat oleh Raja. Setelah Nimo berbincang-bincang dan bertanya tentang Ayahnya yang di tahan di Kerajaan Kecoa. Akhirnya Nimo tahu alasan kenapa Ayahnya tidak kembali kerumah dan Nimo jadi mengerti alasan kenapa Ayahnya ditahan di Kerajaan Kecoa, karena para Kecoa tidak senang akan kebersihan dan semua makanan menyehatkan yang di hasilkan oleh para Kurcaci dengan bantuan Ayah Nimo. Nimo pun berkeinginan menyelamatkan Ayahnya dan membantu para Kurcaci untuk melawan Kerajaan Kecoa, semua Kurcaci membantu dan mendukung apa yang akan Nimo lakukan. Nimo dan Cici akirnya membuat sebuah rencana untuk mengalahkan Kerajaan Kecoa itu. Setelah melakukan perundingan yang sangat lama, akhirnya Nimo dan Cici mulai melaksanakan rencana yang telah mereka susun. Mereka akan menyelinap masuk kedalam Kerajaan Kecoa dan menyelamatkan Ayah Nimo, setelah itu Raja dan Prajuritnya membuka saluran air yang telah di ubah salurannya menuju kerajaan Kecoa itu. Ternyata cara Nimo dan Cici berhasil, akhirnya Nimo kembali lagi bertemu dengan Ayahnya dan Kerajaan Kurcaci sekarang aman dari serangan Kerajaan Kecoa. Raja dan Cici dan juga seluruh warga Dunia Kurcaci berterima kasih kepada Nimo. Nimo beserta Ayahnya segera kembali keluar dari Dunia Kurcaci, karena pintu keluar menuju ke dunia Manusia akan tertutup ktika matahari mulai terbit.
            Nimo dan Ayahnya tepat waktu kembali ke Dunia Manusia, dan pagi itu Nenek terkejut melihat bahwa Anaknya ya itu Ayah Nimo pulang bersama Nimo. Ternyata apa yang Nimo inginkan menjadi kenyataan, ulangtahun tahun depan Nimo dapat merayakan dengan Ayah dan Neneknya. Mulai saat itu, Nimo jadi anak yang rajin membersihkan kamarnya, supaya para kecoa itu tidak lagi muncul untuk menggangu Nimo dan Dunia Kurcaci.

Cerpen Kiriman dari Kevin , siswa SMA jurusan Bahasa Indonesia di daerah yang tidak au dia sebutkan

Kamis, 13 November 2014

Untuk Indo

0

Untuk Indo
Oleh Fitria

Matahari senja menyembunyikan diri di ujung sana, meninggalkan warna keemasan di Tana Toraja. Shela duduk di ujung tempat tidur yang sudah lusuh sambil memandang foto Indo. Ia larut dalam lamunan masa lalu ketika ia harus merantau jauh dari Tana Toraja demi rambu solo’ Indo tercinta.
Indo anakmu kini berhasil mengumpulkan uang untukmu. Indo akan segera bisa sampai puyo sekarang” bisiknya dengan air mata yang meleleh.
Shela adalah anak satu-satunya. Indonya adalah keturunan tana bulaan. Tongkonan yang dimilikinya pun penuh dengan tanduk kerbau. Hanya saja terakhir kali ketika Shela masih balita usaha Indo bangkrut sehingga seluruh harta yang ada dipakai untuk melunasi segala hutang. Shela hanya tinggal dengan Indo selama ini, tanpa pernah tau di mana keberadaan Ambe. Pernah sekali Shela menanyakan Ambe ketika Ia duduk di bangku SMA, namun justru tangisan Indo yang Shela dengar. Maka sejak hari itu Shela tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Ambe meskipun terkadang rasa penasaran menyelimuti pikirannya.
***
Pagi itu Shela seperti mendapat semangat baru. Tangisnya semalam terasa lebih meringankan hatinya. Shela sedikit girang mengingat hari itu akan dilaksanakan rambu solo’ untuk Indo. Rambu solo’ yang meriah dengan banyak korban kerbau dan babi yang akan dilaksanakan berhari-hari sebab Indo adalah keturunan tana bulaan.
Jasad Indo yang masih ada di rumah duka masih diselimuti dengan erong yang cantik. Sebentar lagi akan ada acara pemotongan hewan kerbau sebelum jasad Indo dipindahkan ke tongkonan untuk disemayamkan semalaman. Seekor kerbau sudah berada di simbuang seolah menunggu sang pawang untuk menebas lehernya. Kerbau tersebut seolah telah siap untuk menjadi kendaraan Indo menuju puyo. Tanpa sadar Shela melukis senyum di bibirnya. Tak lama kemudian, sang pawang membawa kerbau untuk dikorbankan. La bok duatalan telah siap di tangannya, dan dalam sekali tebas leher kerbau telah terpisah dari badannya menyemburkan darah yang merah. Jasad indo pun dipindahkan ke tongkonan.
Semalaman cukup ramai di tongkonan. Orang-orang seolah ikut menunggu jasad Indo di sana. Besok adalah hari besar untuk pelaksanaan rambu solo’ di rante. Shela duduk termenung melihat lantang-lantang yang telah beridiri di rante. Tak lama lagi tempat ini akan ramai dengan manusia bahkan turis yang ingin melihat terselenggaranya upacara rambu solo’. Ada rasa bangga yang menyusup ke hatinya seketika, sebab ia akhirnya bisa mengadakan rambu solo’ untuk Indo  meski harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Shela merasa usahanya selama ini membanting tulang akhirnya membawa hasil yang memuaskan bagi dirinya dan Shela berharap Indo pun merasa puas juga di sana.
Shela ingat betul bagaimana ia ditinggal oleh Indo. Saat itu Shela masih menjadi mahasiswa aktif di salah satu universitas ternama di Sulawesi Selatan. Shela bisa kuliah karena Shela seorang anak yang tekun sehingga Shela mendapat beasiswa untuk kuliah. Siang itu ia akan pulang ke rumahnya karena besok adalah hari ulang tahun Indo tercinta. Kabar duka Shela terima persis di depan rumahnya. Ketika itu handphonenya berdering sebelum Ia sempat masuk di halaman rumah. Telefon yang ia terima rupanya mengabarkan bahwa Indo telah pergi. Shela hanya membisu mendengar ucapan orang yang menelfonnya. Mata Shela tertuju pada bendera putih yang berkibar di depan pintu. Ia tahu bahwa bendera putih tersebut menandakan kebenaran akan telefon yang Ia terima barusan. Seketika semuanya terasa gelap. Dan ketika Shela terbangun, Indo telah berada di dalam erong dengan pakaian kesayangannya. Bertahun-tahun Indo sakit di dalam erong, menunggu rambu solo’. Bagi Shela hal itu adalah hal terburuk yang pernah dilalui seumur hidupnya.
Shela bangun sedikit kesiangan, sebab semalam ia lagi-lagi tidur malam karena mengingat kenangan dirinya dan Indo. Hari ini tiba waktunya ritual ma’papengkalao. Sebuah ritual yang dilakukan untuk memindahkan jasad Indo yang telah disemayamkan di tongkonan semalam untuk dipindahkan ke dalam alang. Warga dan keluarga bahu membahu menurunkan erong dari tongkonan. Lamba-lamba sebagai penunjuk jalan menuju alang dibawa oleh perempuan-perempuan yang berpakaian hitam. Terdapat juga sosok tau-tau yang terlihat begitu mirip dengan Indo. Shela berada di antara kerumunan orang termenung melihat tau-tau. Tau-tau yang ada mengingatkan Shela akan sosok Indo yang dicintainya beserta dengan ribuan kenangan yang dimilikinya. Tau-tau tersebut Shela pesan dari seorang ahli kayu pembuat tau-tau terbaik di Toraja sehingga terlihat begitu mirip dengan sosok Indo. Prosesi ma’papengkalao yang berlangsung membuat upacara rambu solo’ terasa  hidup. Suasana mulai terasa ramai di malam hari, sebab warga sekitar mulai melakukan ma’badong. Suaranya terdengar hingga jauh seolah menghangatkan kehidupan malam yang biasanya sunyi.
***
Para keluarga dekat dan kerabat mulai berdatangan satu persatu. Mereka datang membawa keperluan logistik.  Hari itu adalah hari datangnya para kelurga dekat dan saudara untuk mangisi lantang. Tak lupa mereka membawa keperluan logistik yang cukup banyak. Keperluan logistik yang mereka bawa mereka peruntukkan sebagai bentuk partisipasi. Salah satu orang yang datang adalah Roby. Seorang lelaki yang sudah lama menjadi teman dekat Shela selama ini. Roby juga adalah kawan semasa kuliah Shela dahulu. Roby banyak membantu Shela selama ini untuk mengumpulkan uang keperluan rambu solo’ bagi Indo Shela.
“Bagaimana perjalananmu dari ibu kota?” tanya Shela ketika mereka bertatap muka.
“Lumayan melelahkan” dengan senyum tersungging di bibirnya, “bagaimana persiapan acara besok?” tanya Roby kemudian.
“Semuanya baik. Besok adalah hari besar untuk Indo karena besok adalah acara ma’pasonglo . Terimakasih sudah datang lebih awal untuk membantuku mengurus ini semua. Oh iya, mana Ambemu? Bukankah kamu janji untuk memperkenalkannya padaku hari ini?”
Ambe sedang ada urusan. Dia akan segera menyusul setelah urusannya selesai nanti. Dan aku sudah membicarakan tentang keseriusan hubunganku denganmu pada Ambe. Dia bilang dia menurut saja karena dia percaya pilihanku”
“Semoga saja memang ada jodoh untuk kita Roby. Mari kita temui Indo sebentar di alang. Aku juga ingin Indo mengenalmu”
***
Warga serta keluarga yang ada sudah mulai ramai berada di sekitar rante. Jasad Indo baru saja dipindahkan dari alang ke lakian untuk disimpan selama beberapa lama hingga menunggu waktu pemakaman tiba. Keramaian jauh lebih terasa karena hari itu kerbau-kerbau pun siap untuk diadu sebagai hiburan yang dihadirkan dalam upacara rambu solo’. Kerbau terbaik milik Roby pun mulai beradu dengan kerbau terbaik milik Shela. Hal itu menandakan acara mapasilaga tedong mulai berlangsung sejak hari itu dan seterusnya. Shela dan Roby pun larut dalam suasana meriah itu.
Roby memang turut serta dalam pengadaan upacara rambu solo’ bagi ibu dari kekasihnya. Ia ikut menyumbang kerbau bonga, kerbau biasa, dan babi. Shela sebenarnya sudah menolak tapi Roby terus memaksa dengan beralasan bahwa mereka akan segera menjadi suami istri segera setelah rambu solo’ bagi Indo Shela terlaksana. Dan hal itu membuat Shela tidak dapat lagi untuk berkata tidak.
***
Setelah ritual demi ritual dilewati. Kini tiba saatnya acara allo katongkonan. Para tamu dan kerabat jauh satu persatu mulai menghadiri upacara rambu solo’. Mereka memasuki lantang-lantang yang ada untuk bertemu keluarga dekat dan keluarga jauh dari orang yang meninggal. Para tamu disambut cukup baik. Di lantang-lantang hidangan-hidangan khas Toraja tersedia dengan baik, tak ketinggalan tuak sebagai minuman arak khas Tana Toraja juga tersedia di sana.
Salah satu tamu yang datang adalah Tato. Ia adalah ayah dari Roby. Roby dan Shela menyambut kedatangan ayah Roby di tongkonan. Shela sudah lama menunggu pertemuan ini, bagi Shela ini adalah pertama kalinya Shela bertemu dangan Tato ayah Roby.
“Ini Shela ambe. Dia yang aku ceritakan selama ini padamu”, Shela melempar senyum kepada Tato.
“Wajahmu seperti tidak asing bagiku” komentar Tato melihat Shela.
“Mungkin Ambe pernah melihat Shela di televisi, sebab dia tak kalah cantiknya dengan para wanita yang sering muncul di televisi” gurau Roby.
Sebenarnya entah mengapa Shela merasa bahwa ayah Roby pernah Ia lihat juga sebelumnya. Tapi entah kapan. Mungkin hal itu hanya imajinasinya saja. Shela tak mau larut memikirkan hal itu. 
***
Ritual demi ritual berjalan dengan lancar. Hal itu membuat hati Shela lega. Shela memikirkan Indonya yang pasti bahagia dengan upacara rambu solo’ yang diadakan untuknya. Lagi-lagi Ia teringat pada Indonya yang dahulu selalu berpesan agar Shela berusaha keras dalam setiap perjalanan hidup. Tak peduli orang merendahkannya karena Shela adalah anak yang tidak memiliki ayah, namun Shela harus menjadi orang sukses agar tongkonan miliknya tak jatuh ke tangan orang lain. Dan kini Shela berhasil, bahkan bisa mengadakan rambu solo’ yang meriah meskipun ia hanya seorang perempuan yang terkadang direndahkan derajatnya.
Matahari berada tepat di atas kepala. Namun antusias warga masih cukup baik untuk mengelilingi rante. Para turis dan wartawan pun berkumpul di tempat itu. Hari itu adalah waktunya mantaa. Pemotongan hewan kerbau dengan sekali tebas yang akan segera dilakukan memicu banyaknya penonton. Shela juga tak mau ketinggalan melihat ritual tersebut. Pawang telah siap menebas leher kerbau, la bok duatalan terlihat berkilau terkena sinar matahari. Dengan sekali tebas leher kerbau jatuh di tanah bersimpah darah.
***
Di luar rumah semuanya telah siap tersedia. Jasad Indo yang berada di lakian selama ini dikeluarkan dari tempatnya. Menandakan hari pemakaman telah tiba. Shela sedikit muram hari itu. Hatinya terasa sakit mengingat Indo kini akan benar-benar pergi. Tak dapat lagi Ia melihat wajahnya di tongkonan jika rindu datang padanya.
Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah sebentar lagi Indo akan segera bahagia karena Ia bisa segera hidup tenang di puyo?
Iya, kamu benar Roby. Aku juga bahagia karena Indo akan segera beristirahat dengan tenang di puyo dengan para leluhur.
Keluarkan saja semua tangisanmu nanti. Tidak apa-apa. Karena ini yang terakhir kalinya. Aku akan ada di sampingmu.
Shela dan Roby pun keluar menuju rante. Ada yang berbeda hari itu. Suasana  bahagia yang biasanya terlihat kini terasa sedikit suram, namun kemeriahan tidak terlepas di hari itu. Shela dan keluarga lainnya menangisi Indo yang akan dimakamkan. Sebab selama ini mereka telah larut dalam suasana bahagia. Shela meneteskan air matanya dengan begitu deras, Roby dan Tato berusaha sedikit menenangkan Shela yang tak henti-hentinya menangis.
Kini jasad Indo yang ada di erong telah berada di dalam duba-duba. Warga bahu-membahu menganggkat duba-duba. Suasana ramai sangat terasa ketika duba-duba dibawa menuju ke patane. Para warga yang mengiringi jenazah saling dorong dan berteriak selama perjalanan menuju patane.
Shela, Roby, dan Tato ikut mengiringi jenazah menuju patane. Ketika erong dikeluarkan untuk diletakan ke patane, Tato menyadari satu hal. Bahwa nama perempuan yang berada di dalam erong adalah nama wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya 30 tahun yang lalu. Kristina. Dan Tato tak pernah tau ketika Ia meninggalkan Kristina, rupanya wanita itu sedang mengandung benihnya. Tato hanya bisa terdiam melihat semua peristiwa itu karena kini Shela dan Roby bahkan sudah menyiapkan rencana pernikahan mereka.
*** 

Daftar Istilah:
Indo : Ibu
Tedong bonga : Kerbau belang yang harganya ratusan juta untuk kematian
Rambu Solo : Upacara kematian Tana Toraja
Puyo : Surga

Pengirim:
Nama: Fitria .R
Seorang Mahasiswi di universitas swasta yang mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com