Kamis, 13 November 2014

Untuk Indo

0

Untuk Indo
Oleh Fitria

Matahari senja menyembunyikan diri di ujung sana, meninggalkan warna keemasan di Tana Toraja. Shela duduk di ujung tempat tidur yang sudah lusuh sambil memandang foto Indo. Ia larut dalam lamunan masa lalu ketika ia harus merantau jauh dari Tana Toraja demi rambu solo’ Indo tercinta.
Indo anakmu kini berhasil mengumpulkan uang untukmu. Indo akan segera bisa sampai puyo sekarang” bisiknya dengan air mata yang meleleh.
Shela adalah anak satu-satunya. Indonya adalah keturunan tana bulaan. Tongkonan yang dimilikinya pun penuh dengan tanduk kerbau. Hanya saja terakhir kali ketika Shela masih balita usaha Indo bangkrut sehingga seluruh harta yang ada dipakai untuk melunasi segala hutang. Shela hanya tinggal dengan Indo selama ini, tanpa pernah tau di mana keberadaan Ambe. Pernah sekali Shela menanyakan Ambe ketika Ia duduk di bangku SMA, namun justru tangisan Indo yang Shela dengar. Maka sejak hari itu Shela tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Ambe meskipun terkadang rasa penasaran menyelimuti pikirannya.
***
Pagi itu Shela seperti mendapat semangat baru. Tangisnya semalam terasa lebih meringankan hatinya. Shela sedikit girang mengingat hari itu akan dilaksanakan rambu solo’ untuk Indo. Rambu solo’ yang meriah dengan banyak korban kerbau dan babi yang akan dilaksanakan berhari-hari sebab Indo adalah keturunan tana bulaan.
Jasad Indo yang masih ada di rumah duka masih diselimuti dengan erong yang cantik. Sebentar lagi akan ada acara pemotongan hewan kerbau sebelum jasad Indo dipindahkan ke tongkonan untuk disemayamkan semalaman. Seekor kerbau sudah berada di simbuang seolah menunggu sang pawang untuk menebas lehernya. Kerbau tersebut seolah telah siap untuk menjadi kendaraan Indo menuju puyo. Tanpa sadar Shela melukis senyum di bibirnya. Tak lama kemudian, sang pawang membawa kerbau untuk dikorbankan. La bok duatalan telah siap di tangannya, dan dalam sekali tebas leher kerbau telah terpisah dari badannya menyemburkan darah yang merah. Jasad indo pun dipindahkan ke tongkonan.
Semalaman cukup ramai di tongkonan. Orang-orang seolah ikut menunggu jasad Indo di sana. Besok adalah hari besar untuk pelaksanaan rambu solo’ di rante. Shela duduk termenung melihat lantang-lantang yang telah beridiri di rante. Tak lama lagi tempat ini akan ramai dengan manusia bahkan turis yang ingin melihat terselenggaranya upacara rambu solo’. Ada rasa bangga yang menyusup ke hatinya seketika, sebab ia akhirnya bisa mengadakan rambu solo’ untuk Indo  meski harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Shela merasa usahanya selama ini membanting tulang akhirnya membawa hasil yang memuaskan bagi dirinya dan Shela berharap Indo pun merasa puas juga di sana.
Shela ingat betul bagaimana ia ditinggal oleh Indo. Saat itu Shela masih menjadi mahasiswa aktif di salah satu universitas ternama di Sulawesi Selatan. Shela bisa kuliah karena Shela seorang anak yang tekun sehingga Shela mendapat beasiswa untuk kuliah. Siang itu ia akan pulang ke rumahnya karena besok adalah hari ulang tahun Indo tercinta. Kabar duka Shela terima persis di depan rumahnya. Ketika itu handphonenya berdering sebelum Ia sempat masuk di halaman rumah. Telefon yang ia terima rupanya mengabarkan bahwa Indo telah pergi. Shela hanya membisu mendengar ucapan orang yang menelfonnya. Mata Shela tertuju pada bendera putih yang berkibar di depan pintu. Ia tahu bahwa bendera putih tersebut menandakan kebenaran akan telefon yang Ia terima barusan. Seketika semuanya terasa gelap. Dan ketika Shela terbangun, Indo telah berada di dalam erong dengan pakaian kesayangannya. Bertahun-tahun Indo sakit di dalam erong, menunggu rambu solo’. Bagi Shela hal itu adalah hal terburuk yang pernah dilalui seumur hidupnya.
Shela bangun sedikit kesiangan, sebab semalam ia lagi-lagi tidur malam karena mengingat kenangan dirinya dan Indo. Hari ini tiba waktunya ritual ma’papengkalao. Sebuah ritual yang dilakukan untuk memindahkan jasad Indo yang telah disemayamkan di tongkonan semalam untuk dipindahkan ke dalam alang. Warga dan keluarga bahu membahu menurunkan erong dari tongkonan. Lamba-lamba sebagai penunjuk jalan menuju alang dibawa oleh perempuan-perempuan yang berpakaian hitam. Terdapat juga sosok tau-tau yang terlihat begitu mirip dengan Indo. Shela berada di antara kerumunan orang termenung melihat tau-tau. Tau-tau yang ada mengingatkan Shela akan sosok Indo yang dicintainya beserta dengan ribuan kenangan yang dimilikinya. Tau-tau tersebut Shela pesan dari seorang ahli kayu pembuat tau-tau terbaik di Toraja sehingga terlihat begitu mirip dengan sosok Indo. Prosesi ma’papengkalao yang berlangsung membuat upacara rambu solo’ terasa  hidup. Suasana mulai terasa ramai di malam hari, sebab warga sekitar mulai melakukan ma’badong. Suaranya terdengar hingga jauh seolah menghangatkan kehidupan malam yang biasanya sunyi.
***
Para keluarga dekat dan kerabat mulai berdatangan satu persatu. Mereka datang membawa keperluan logistik.  Hari itu adalah hari datangnya para kelurga dekat dan saudara untuk mangisi lantang. Tak lupa mereka membawa keperluan logistik yang cukup banyak. Keperluan logistik yang mereka bawa mereka peruntukkan sebagai bentuk partisipasi. Salah satu orang yang datang adalah Roby. Seorang lelaki yang sudah lama menjadi teman dekat Shela selama ini. Roby juga adalah kawan semasa kuliah Shela dahulu. Roby banyak membantu Shela selama ini untuk mengumpulkan uang keperluan rambu solo’ bagi Indo Shela.
“Bagaimana perjalananmu dari ibu kota?” tanya Shela ketika mereka bertatap muka.
“Lumayan melelahkan” dengan senyum tersungging di bibirnya, “bagaimana persiapan acara besok?” tanya Roby kemudian.
“Semuanya baik. Besok adalah hari besar untuk Indo karena besok adalah acara ma’pasonglo . Terimakasih sudah datang lebih awal untuk membantuku mengurus ini semua. Oh iya, mana Ambemu? Bukankah kamu janji untuk memperkenalkannya padaku hari ini?”
Ambe sedang ada urusan. Dia akan segera menyusul setelah urusannya selesai nanti. Dan aku sudah membicarakan tentang keseriusan hubunganku denganmu pada Ambe. Dia bilang dia menurut saja karena dia percaya pilihanku”
“Semoga saja memang ada jodoh untuk kita Roby. Mari kita temui Indo sebentar di alang. Aku juga ingin Indo mengenalmu”
***
Warga serta keluarga yang ada sudah mulai ramai berada di sekitar rante. Jasad Indo baru saja dipindahkan dari alang ke lakian untuk disimpan selama beberapa lama hingga menunggu waktu pemakaman tiba. Keramaian jauh lebih terasa karena hari itu kerbau-kerbau pun siap untuk diadu sebagai hiburan yang dihadirkan dalam upacara rambu solo’. Kerbau terbaik milik Roby pun mulai beradu dengan kerbau terbaik milik Shela. Hal itu menandakan acara mapasilaga tedong mulai berlangsung sejak hari itu dan seterusnya. Shela dan Roby pun larut dalam suasana meriah itu.
Roby memang turut serta dalam pengadaan upacara rambu solo’ bagi ibu dari kekasihnya. Ia ikut menyumbang kerbau bonga, kerbau biasa, dan babi. Shela sebenarnya sudah menolak tapi Roby terus memaksa dengan beralasan bahwa mereka akan segera menjadi suami istri segera setelah rambu solo’ bagi Indo Shela terlaksana. Dan hal itu membuat Shela tidak dapat lagi untuk berkata tidak.
***
Setelah ritual demi ritual dilewati. Kini tiba saatnya acara allo katongkonan. Para tamu dan kerabat jauh satu persatu mulai menghadiri upacara rambu solo’. Mereka memasuki lantang-lantang yang ada untuk bertemu keluarga dekat dan keluarga jauh dari orang yang meninggal. Para tamu disambut cukup baik. Di lantang-lantang hidangan-hidangan khas Toraja tersedia dengan baik, tak ketinggalan tuak sebagai minuman arak khas Tana Toraja juga tersedia di sana.
Salah satu tamu yang datang adalah Tato. Ia adalah ayah dari Roby. Roby dan Shela menyambut kedatangan ayah Roby di tongkonan. Shela sudah lama menunggu pertemuan ini, bagi Shela ini adalah pertama kalinya Shela bertemu dangan Tato ayah Roby.
“Ini Shela ambe. Dia yang aku ceritakan selama ini padamu”, Shela melempar senyum kepada Tato.
“Wajahmu seperti tidak asing bagiku” komentar Tato melihat Shela.
“Mungkin Ambe pernah melihat Shela di televisi, sebab dia tak kalah cantiknya dengan para wanita yang sering muncul di televisi” gurau Roby.
Sebenarnya entah mengapa Shela merasa bahwa ayah Roby pernah Ia lihat juga sebelumnya. Tapi entah kapan. Mungkin hal itu hanya imajinasinya saja. Shela tak mau larut memikirkan hal itu. 
***
Ritual demi ritual berjalan dengan lancar. Hal itu membuat hati Shela lega. Shela memikirkan Indonya yang pasti bahagia dengan upacara rambu solo’ yang diadakan untuknya. Lagi-lagi Ia teringat pada Indonya yang dahulu selalu berpesan agar Shela berusaha keras dalam setiap perjalanan hidup. Tak peduli orang merendahkannya karena Shela adalah anak yang tidak memiliki ayah, namun Shela harus menjadi orang sukses agar tongkonan miliknya tak jatuh ke tangan orang lain. Dan kini Shela berhasil, bahkan bisa mengadakan rambu solo’ yang meriah meskipun ia hanya seorang perempuan yang terkadang direndahkan derajatnya.
Matahari berada tepat di atas kepala. Namun antusias warga masih cukup baik untuk mengelilingi rante. Para turis dan wartawan pun berkumpul di tempat itu. Hari itu adalah waktunya mantaa. Pemotongan hewan kerbau dengan sekali tebas yang akan segera dilakukan memicu banyaknya penonton. Shela juga tak mau ketinggalan melihat ritual tersebut. Pawang telah siap menebas leher kerbau, la bok duatalan terlihat berkilau terkena sinar matahari. Dengan sekali tebas leher kerbau jatuh di tanah bersimpah darah.
***
Di luar rumah semuanya telah siap tersedia. Jasad Indo yang berada di lakian selama ini dikeluarkan dari tempatnya. Menandakan hari pemakaman telah tiba. Shela sedikit muram hari itu. Hatinya terasa sakit mengingat Indo kini akan benar-benar pergi. Tak dapat lagi Ia melihat wajahnya di tongkonan jika rindu datang padanya.
Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah sebentar lagi Indo akan segera bahagia karena Ia bisa segera hidup tenang di puyo?
Iya, kamu benar Roby. Aku juga bahagia karena Indo akan segera beristirahat dengan tenang di puyo dengan para leluhur.
Keluarkan saja semua tangisanmu nanti. Tidak apa-apa. Karena ini yang terakhir kalinya. Aku akan ada di sampingmu.
Shela dan Roby pun keluar menuju rante. Ada yang berbeda hari itu. Suasana  bahagia yang biasanya terlihat kini terasa sedikit suram, namun kemeriahan tidak terlepas di hari itu. Shela dan keluarga lainnya menangisi Indo yang akan dimakamkan. Sebab selama ini mereka telah larut dalam suasana bahagia. Shela meneteskan air matanya dengan begitu deras, Roby dan Tato berusaha sedikit menenangkan Shela yang tak henti-hentinya menangis.
Kini jasad Indo yang ada di erong telah berada di dalam duba-duba. Warga bahu-membahu menganggkat duba-duba. Suasana ramai sangat terasa ketika duba-duba dibawa menuju ke patane. Para warga yang mengiringi jenazah saling dorong dan berteriak selama perjalanan menuju patane.
Shela, Roby, dan Tato ikut mengiringi jenazah menuju patane. Ketika erong dikeluarkan untuk diletakan ke patane, Tato menyadari satu hal. Bahwa nama perempuan yang berada di dalam erong adalah nama wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya 30 tahun yang lalu. Kristina. Dan Tato tak pernah tau ketika Ia meninggalkan Kristina, rupanya wanita itu sedang mengandung benihnya. Tato hanya bisa terdiam melihat semua peristiwa itu karena kini Shela dan Roby bahkan sudah menyiapkan rencana pernikahan mereka.
*** 

Daftar Istilah:
Indo : Ibu
Tedong bonga : Kerbau belang yang harganya ratusan juta untuk kematian
Rambu Solo : Upacara kematian Tana Toraja
Puyo : Surga

Pengirim:
Nama: Fitria .R
Seorang Mahasiswi di universitas swasta yang mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com