Jumat, 13 November 2015

Petualangan Nimo di Dunia Kurcaci

0


Petualangan Nimo di Dunia Kurcaci
oleh kevin

 
Pagi itu masih dingin, Nimo mendengar Neneknya memanggil dan menyuruh dia untuk segera bangun.
“Nimo bangun!”, Nenek memanggil sambil mengetuk pintu kamar Nimo.
“Iya Nek….,” jawab Nimo sambil menyingkirkan selimut yang masih dia pakai.
Segera Nimo langsung berdiri dan berjalan membuka jendela kamarnya yang masih tertutup, ketika jendela kamar Nimo terbuka, banyak sekali Kecoa yang berlarian kesana kemari. Maklum Nimo adalah anak yang malas untuk membersihkan kamarnya, buku-buku, pakaian kotor dan mainannya berserakan di lantai, sehingga banyak Kecoa di kamar Nimo. Salah satu Kecoa hinggap di tubuh Nimo, Nimopun langsung berteriak dan berlari keluar dari kamarnya.

“Nenek, Tolong…!!,” teriak Nimo.
“Ada apa Nimo, pagi-pagi kamu sudah teriak-teriak?,” jawab Nenek sambil menyiapkan sarapan.
“Ada Kecoa Nek di kamar, terus tadi hinggap ke tubuhku,” jawab Nimo sambil melihat ke tubuhnya untuk memastikan apakah Kecoa itu masih ada apa sudah pergi.
“Salahmu sendiri, malas merapikan kamarmu makanya jadi banyak Kecoa, sudah sana mandi!, nanti kamu terlambat kesekolah,” Jawab Nenek sambil memberikan handuk kepada Nimo. Nimopun segera pergi menuju ke kamar mandi yang terletak tak jauh dari kamarnya.

Selesai mandi, Nimo langsung pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah, dengan rasa takut terhadap kecoa Nimo mulai membuka pintu kamarnya secara perlahan, “Ah…aman, untung Kecoanya sudah tidak ada lagi,” Nimo berkata di dalam hatinya. Nimo pun bergegas memakai seragam sekolahnya dan menyiapkan buku-buku pelajaran kemudian dia masukan ke dalam tas sekolahnya. Selesai bersiap-siap, Nimo langsung menuju ke meja makan, di sana Nenek sudah menunggu Nimo untuk sarapan. Nenek sudah menyiapkan Roti Bakar untuk Nimo berserta segelas susu pada pagi itu.
Nek…kenapa yah di kamarku banyak Kecoa?” tanya Nimo kepada Nenek. Nenek menjawab dengan tersenyum, “ Salahmu sendiri, Sudah besar masih malas membersihkan kamarmu, ingat besok kamu sudah berumur 8 tahun”.

“Iya Nek… hehehe, ternyata Nimo sudah besar yah Nek? Besok sudah 8 tahun umur Nimo, tapi rasanya malas untuk membersihkan kamar Nimo,” jawab Nimo sambil menyelesaikan makannya.
“Dasar kamu anak malas, ingat perkataan Ayahmu, Jadi anak laki-laki tuh harus rajin,” jawab Nenek.
“Iya Nek, Nimo kangen Nek sama Ayah, terakhir Nimo bersama Ayah, Nimo di ceritakan tentang petualangan Ayah  mengambil emas di Afrika dan tentang Dunia Kurcaci, Ayah juga berjanji akan mengajakku pergi ke Dunia Kurcaci,” jawab nimo dengan sedih.
“ Sudah-sudah itu semua hanya karangan Ayahmu, Dunia Kurcaci itu tidak ada itu semua hanya dongeng,” jawab Nenek
“Tapi Ayah tidak akan berbohong ke Nimo Nek, Nimo percaya dengan semua yang Ayah katakan, Ayah juga sudah memberikan bukti bahwa Dunia Kurcaci itu ada, di buku yang Ayah berikan ke Nimo saat ulang tahun Nimo yang ke 7 tahun lalu ada foto Putri Kurcaci yang cantik, namanya Cici,” jawab Nimo sambil menyangkal perkataan Nenek
“Iya…iya Nenek percaya dengan perkataanmu, sudah sana berangkat sekolah nanti kamu terlambat lagi,” jawab Nenek sambil memberikan tas sekolah ke Nimo
“Iya Nek, Nimo berangkat,” jawab Nimo dengan suara yang lemah. Nimopun langsung pergi menuju ke sekolahnya yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

Dalam perjalanan, Nimo teringat semua hal tentang Ayahnya yang pergi satu tahun yang lalu untuk mengambil Emas yang diperoleh di Afrika yang dia simpan di Dunia Kurcaci dan sampai sekarang belum juga kembali. Ayah Nimo pergi satu hari setelah Nimo merayakan ulang tahunnya. Ayah Nimo adalah seseorang yang sangat sayang kepada Nimo dan Ibunya yaitu Nenek Nimo. 
Sampai di sekolah, Nimo langsung duduk dan melihat buku pemberian Ayahnya, Nimo membuka halaman pertama buku itu, halaman pertama buku itu tertulis sebuah kalimat yang di tujukan kepada Nimo “Nimo, sesuatu yang tidak terlihat itu bisa menuntunmu,” nimo masih belum bisa memahami kalimat yang Ayahnya tuliskan di buku itu. Kemudian Nimo membuka halaman Ke-Dua yang berisi foto Putri Kurcaci yang bernama Cici, di bawah foto Cici si Putri Kurcaci itu tertulis beberapa kata-kata yang berbunyi “mereka memang ada dan aku menitipkan Harta Karunku di Dunia mereka, mereka dekat dengan kita, Bulan Purnama adalah jalan masuk ke Dunia mereka” kata-kata yang tertulis dan foto Cici yang terdapat di buku itulah yang membuat Nimo yakin kalau Dunia Kurcaci itu memang ada. Nimo yakin dia akan menemukan Dunia Kurcaci itu. Halaman selajutnya dari buku itu tidak ada sesuatu yang jelas, tidak ada sesuatu yang dapat Nimo baca, halam itu hanya berisi kertas kosong yang masih bersih. Tidak lama kemudian, Bu Gurupun datang, Nimo pun langsung memasukan buku itu dan siap untuk mengikuti pelajaran yang akan disampaikan oleh Bu Guru. Walaupun Nimo anak yang malas untuk membersihkan kamarnya, tetapi nilai yang Nimo peroleh di sekolah sangat baik, tak jarang dia mendapatkan peringkat Satu di kelas. 
Sekolah pun selesai, Nimo langsung bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang, Nimo masih memikirkan Dunia Kurcaci itu. Sesampainya di rumah, Nimo langsung menuju ke kamar dan ketika Nimo membuka pintu kamarnya, kejadian yang sama tentang Kecoa terulang lagi. Banyak kecoa berlarian kesana kemari, Nimo pun langsung pergi karena ketakutan melihat Kecoa-kecoa itu dan mengambil buku pemberian Ayahnya yang dia simpan di dalam tas, kemudian Nimo lemparkan tas itu ke tempat tidurnya. Akhirnya Nimo pergi dari kamarnya sambil membawa buku itu menuju ke kamar Ayahnya. Di sana Nimo berfikir mencari tahu arti dari kata-kata yang ada di dalam buku itu. Hingga tak terasa Nimo telah menghabiskan banyak waktu di sana. Haripun mulai gelap, karena lampu kamar itu mati, akhirnya Nimo mengambil sebatang lilin yang berada di Dapur dan kemudian Nimo bawa ke kamar Ayahnya. Dinyalakan lilin tersebut, Ketika Nimo akan melanjutkan membaca buku itu, tiba-tiba Neneknya memanggil Nimo. “Nimo…makan malam dulu!” teriak Nenek, “Iya Nek…,”jawab Nimo. Nimo pun langsung keluar dari kamar Ayahnya dan menuju ke meja makan, sampai di meja makan, Nimo langsung memakan makanan yang sudah Nenek siapkan dengan tergesa-gesa. “Makannya yang pelan Nimo, tidak baik,” kata Nenek kepada Nimo, Nimo pun menjawab dengan mulut penuh makanan, “Iya Nek”. Tidak lama kemudian Nimo pun sudah seleseai makan malam, Nimo langsung menuju ke kamar Ayahnya, sambil berlari Nimo berkata kepada Neneknya,”Nek..Nimo akan tidur cepat malam ini, Nimo tidur di kamar Ayah”.

Sesampai di kamar Ayahnya, Nimo kembali melanjutkan membaca buku itu, lilin pun kembali dinyalakan. Nimo mendekatkan buku itu ke lilin, agar cahaya lilin dapat menerangi Nimo saat membaca dan ketika Nimo membuka halaman kosong di dalam buku itu, ternyata halaman itu tidak lagi kosong, terdapat gambar peta dimana letak Dunia Kurcaci dan cara masuk kedalam Dunia Kurcaci itu. Nimo heran melihat halaman yang mulanya kosong, tetapi sekarang sudah berisi sebuah gambar peta, Nimo penasaran apa penyebab semua itu, ketika Nimo menjauhkan buku itu dari lilin dan ternyata gambar peta itu hilang dan ketika dia dekatkan gambar itupun muncul lagi. Akhirnya Nimo sadar dengan pesan Ayahnya kepada Nimo di buku itu, ternyata peta dalam buku itu di gambar dengan tinta yang dapat dilihat apabila ada cahaya lilin. Berkat peta itu, sekarang Nimo sudah tau dimana letak Dunia Kurcaci dan bagaimana cara masuk ke Dunia Kurcaci itu. Nimo pun berencana besok pagi dia akan mempelajari peta itu karena besok tepat hari Minggu dan malam harinya dia akan memulai petualangannya menuju Dunia Kurcaci. Nimo pun langsung bergegas untuk tidur dan dia tak sabar akan hari besok, karena Dunia Kurcaci yang ingin dia datangi  akan dapat  Nimo kunjungi dan besok Nimo juga  akan  berumur 8 tahun. 

Pagi pun datang, Nimo langsung bangun dan menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu, roti ulangtahun yang sudah di siapkan Nenek sudah terletak di atas meja berserta lilin yang sudah menyala. Nimo pun merasa sangat senang, Nimo mendekati roti ulang tahun itu, dan Nenek datang dari kamar membawa sebuah kado. “Cepat Nimo tiup lilinnya, dan mintalah sebuah keinginanmu,” kata Nenek, Nimo segera meniup lilin itu dan menyebutkan keinginannya, Nimo ingin agar ulangtahun berikutnya Ayahnya bisa ada untuk merayakan bersama ulangtahun Nimo. Setelah itu, Nimo membuk kado yang dia dapat dari Neneknya. Kado itu berisi sebuah Lensa Pembesar yang ternyata sudah di siapkan oleh Ayahnya sebelum Ayahnya pergi, Nimo sangat senang dengan hadiah itu. Selesai Nimo merayakan ulangtahunnya, Nimo bergegas menuju kamar Ayahnya untuk mempelajari peta yang ada di buku itu.

Hari itu pun Nimo hanya berada di kamar Ayahnya, banyak waktu yang dia habiskan untuk mempelajari peta tersebut. tidak sia-sia Nimo menghabiskna banyak waktu untuk mempelajari peta itu, akhirnya dia tahu jalan menuju ke Dunia Kurcaci. Ternyata pintu masuk menuju Dunia Kurcaci terletak pada Pohon Rambutan yang berada di depan rumahnya dan pintu menuju ke Dunia Kurcaci terbuka ketika cahaya bulan tepat berada di atas lobang kecil yang terletak di bagian Pohon Rambutan itu. Ternyata semua yang tertulis di buku itu benar, tetapi hanyan disampaikan secara tidak langsung oleh Ayahnya. Nimo pun segera bersiap-siap untuk melakukan petualangannya nanti malam.

Malam hari pun telah datang, setelah Nimo selesai makan malam bersama Neneknya, Nimo kembali ke kamar Ayahnya dan melihat ke jendela, ternyata Bulan Purnam telah muncul pada malam itu. Ketika Nenek sudah tertidur, Nimo diam-diam keluar dari rumah dengan hanya membawa Lensa Pembesar itu yang Nimo harap akan membawa sebuah keberuntungan. Nimo langsung menuju ke Pohon Rambutan yang ada di depan rumahnya, dan dia mencari lubang kecil yang ada di pohon rambutan itu, lumayan lama Nimo mencari lubang kecil pohon itu dan akhirnya lubang itu berhasil Nimo temukan, tetapi Cahaya Bulan Purnama tidak tepat berada di lubang yang berada di pohon rambutan. Nimo pun mencari cara agar Cahaya Bulan Purnama bisa tepat berada di atas lubang itu. Setelah lama berfikir, akhirnya Nimo berhasil menemukan cara untuk mengarahkan Cahaya Bulan Purnama, Nimo mengeluarkan Lensa Pembesar yang dia dapatkan tadi pagi, dan ternyata Cahaya Bulan Purnama dapat Nimo pantulkan, segera Nimo mengarahkan Lensa Pembesar ke arah lubang yang berada di Pohon Rambutan, ketika Cahaya Bulan Purnama berhasil Nimo arahkan tepat ke atas lubang yang berada di Pohon Rambutan, Pohon Rambutan itu bergetar dan terbukalah sebuah pintu dari balik Pohon Rambutan. Ternyata Lensa Pembesar itu benar-benar membawa sebuah keberuntungan, pintu menuju ke Dunia Kurcaci sekarang sudah ada di depan mata, Nimo segera bergegas masuk kedalam pintu itu. Dengan perasaan sangat senang Nimo mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam dan apa yang terjadi, Nimo berubah menjadi Kurcaci, Nimo berubah menjadi manusia yang kecil. Nimo kaget dengan perubahan itu, kabut putih menutupi penglihatan Nimo dan setelah kabut putih itu hilang, Nimo tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Nimo melihat sebuah kerajaan yang rakyatnya adalah para Kurcaci yang Ayahnya ceritakan, Nimo masih tidak percaya dengan semua hal yang dia lihat sekarang.

Ketika Nimo sedang berjalan-jalan melihat sebuah desa yang dihuni oleh para kurcaci, tiba-tiba dari arah depan Nimo para kurcaci itu berlarian kesana kemari sambil berteriak “Lari-lari..cepat lari,” Nimo pun bingung apa yang terjadi. Ternyata desa itu sedang di serang oleh para Prajurit dari Kerajaan Kecoa, mereka menghancurkan seisi desa dan merusak apapun yang mereka lewati. Hampir saja Nimo menjadi korban para Prajurit dari Kerajaan Kecoa, tetapi seseorang telah menyelamatkannya. Ternyata kurcaci yang menyelamatkan Nimo adalah Cici si Putri Kurcaci yang dia lihat di buku pemberian Ayahnya. Nimo tak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Cici dan diselamatkannya. Nimo pun mengucapkan terima kasih kepada Cici dan mereka saling berkenalan satu sama lain. Cici bertanya kepada Nimo, “kamu tidak apa-apa? Kamu bukan berasal dari dunia kami kan?”
“Iya aku tidak apa-apa, terima kasih telah menyelamatkanku, bagaimana kamu tahu aku bukan berasal dari dunia kalian?” jawab Nimo dengan terkejut
“Sudah kewajibanku sebagai calon pemimpin untuk melindungi rakyatku, iya jelas aku tahu, dulu ada seorang Pria yang datang kemari dan dia membantu kami dengan membuat sebuah saluran air untuk mengairi hasil kebun kami, tapi sekarang dia telah ditahan oleh Kerajan Kecoa” jawab Cici sambil berjalan mengajak Nimo ke Istana.
“Apa..!!? Ayah…, dia ayahku!!” jawab Nimo dengan terkejut karena Ayahnya masih hidup.
“ Jadi ternyata kamu anak dari Pria itu?, cepat kita ke Istana dan temui Raja.

Sesampainya di Istana, Nimo di perkenalkan dengan Raja. Cici menceritakan kepada Raja  bahwa Nimo adalah anak dari Pria yang memabantu Kerajaannya. Nimo di sambut dengan hangat oleh Raja. Setelah Nimo berbincang-bincang dan bertanya tentang Ayahnya yang di tahan di Kerajaan Kecoa. Akhirnya Nimo tahu alasan kenapa Ayahnya tidak kembali kerumah dan Nimo jadi mengerti alasan kenapa Ayahnya ditahan di Kerajaan Kecoa, karena para Kecoa tidak senang akan kebersihan dan semua makanan menyehatkan yang di hasilkan oleh para Kurcaci dengan bantuan Ayah Nimo. Nimo pun berkeinginan menyelamatkan Ayahnya dan membantu para Kurcaci untuk melawan Kerajaan Kecoa, semua Kurcaci membantu dan mendukung apa yang akan Nimo lakukan. Nimo dan Cici akirnya membuat sebuah rencana untuk mengalahkan Kerajaan Kecoa itu. Setelah melakukan perundingan yang sangat lama, akhirnya Nimo dan Cici mulai melaksanakan rencana yang telah mereka susun. Mereka akan menyelinap masuk kedalam Kerajaan Kecoa dan menyelamatkan Ayah Nimo, setelah itu Raja dan Prajuritnya membuka saluran air yang telah di ubah salurannya menuju kerajaan Kecoa itu. Ternyata cara Nimo dan Cici berhasil, akhirnya Nimo kembali lagi bertemu dengan Ayahnya dan Kerajaan Kurcaci sekarang aman dari serangan Kerajaan Kecoa. Raja dan Cici dan juga seluruh warga Dunia Kurcaci berterima kasih kepada Nimo. Nimo beserta Ayahnya segera kembali keluar dari Dunia Kurcaci, karena pintu keluar menuju ke dunia Manusia akan tertutup ktika matahari mulai terbit.
            Nimo dan Ayahnya tepat waktu kembali ke Dunia Manusia, dan pagi itu Nenek terkejut melihat bahwa Anaknya ya itu Ayah Nimo pulang bersama Nimo. Ternyata apa yang Nimo inginkan menjadi kenyataan, ulangtahun tahun depan Nimo dapat merayakan dengan Ayah dan Neneknya. Mulai saat itu, Nimo jadi anak yang rajin membersihkan kamarnya, supaya para kecoa itu tidak lagi muncul untuk menggangu Nimo dan Dunia Kurcaci.

Cerpen Kiriman dari Kevin , siswa SMA jurusan Bahasa Indonesia di daerah yang tidak au dia sebutkan

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com