Untuk
Indo
Oleh Fitria
Matahari
senja menyembunyikan diri di ujung sana, meninggalkan warna keemasan di Tana
Toraja. Shela duduk di ujung tempat tidur yang sudah lusuh sambil memandang
foto Indo. Ia larut dalam lamunan
masa lalu ketika ia harus merantau jauh dari Tana Toraja demi rambu solo’ Indo tercinta.
“Indo anakmu kini berhasil mengumpulkan
uang untukmu. Indo akan segera bisa
sampai puyo sekarang” bisiknya dengan
air mata yang meleleh.
Shela
adalah anak satu-satunya. Indonya
adalah keturunan tana bulaan. Tongkonan yang
dimilikinya pun penuh dengan tanduk kerbau. Hanya saja terakhir kali ketika
Shela masih balita usaha Indo bangkrut
sehingga seluruh harta yang ada dipakai untuk melunasi segala hutang. Shela
hanya tinggal dengan Indo selama ini,
tanpa pernah tau di mana keberadaan Ambe.
Pernah sekali Shela menanyakan Ambe ketika
Ia duduk di bangku SMA, namun justru tangisan Indo yang Shela dengar. Maka sejak hari itu Shela tidak pernah lagi
menanyakan keberadaan Ambe meskipun
terkadang rasa penasaran menyelimuti pikirannya.
***
Pagi
itu Shela seperti mendapat semangat baru. Tangisnya semalam terasa lebih
meringankan hatinya. Shela sedikit girang mengingat hari itu akan dilaksanakan rambu solo’ untuk Indo. Rambu solo’ yang meriah dengan banyak korban kerbau dan babi
yang akan dilaksanakan berhari-hari sebab Indo
adalah keturunan tana bulaan.
Jasad
Indo yang masih ada di rumah duka
masih diselimuti dengan erong yang
cantik. Sebentar lagi akan ada acara pemotongan hewan kerbau sebelum jasad Indo dipindahkan ke tongkonan untuk disemayamkan semalaman. Seekor kerbau sudah berada
di simbuang seolah menunggu sang
pawang untuk menebas lehernya. Kerbau tersebut seolah telah siap untuk menjadi
kendaraan Indo menuju puyo. Tanpa
sadar Shela melukis senyum di bibirnya. Tak lama kemudian, sang pawang membawa
kerbau untuk dikorbankan. La bok duatalan
telah siap di tangannya, dan dalam sekali tebas leher kerbau telah terpisah
dari badannya menyemburkan darah yang merah. Jasad indo pun dipindahkan ke tongkonan.
Semalaman
cukup ramai di tongkonan. Orang-orang
seolah ikut menunggu jasad Indo di
sana. Besok adalah hari besar untuk pelaksanaan rambu solo’ di rante. Shela
duduk termenung melihat lantang-lantang yang
telah beridiri di rante. Tak lama
lagi tempat ini akan ramai dengan manusia bahkan turis yang ingin melihat
terselenggaranya upacara rambu solo’. Ada rasa bangga yang menyusup ke
hatinya seketika, sebab ia akhirnya bisa mengadakan rambu solo’ untuk Indo meski harus menunggu bertahun-tahun lamanya.
Shela merasa usahanya selama ini membanting tulang akhirnya membawa hasil yang
memuaskan bagi dirinya dan Shela berharap Indo
pun merasa puas juga di sana.
Shela
ingat betul bagaimana ia ditinggal oleh Indo.
Saat itu Shela masih menjadi mahasiswa aktif di salah satu universitas
ternama di Sulawesi Selatan. Shela bisa kuliah karena Shela seorang anak yang
tekun sehingga Shela mendapat beasiswa untuk kuliah. Siang itu ia akan pulang ke
rumahnya karena besok adalah hari ulang tahun Indo tercinta. Kabar duka
Shela terima persis di depan rumahnya. Ketika itu handphonenya berdering
sebelum Ia sempat masuk di halaman rumah. Telefon yang ia terima rupanya
mengabarkan bahwa Indo telah pergi.
Shela hanya membisu mendengar ucapan orang yang menelfonnya. Mata Shela tertuju
pada bendera putih yang berkibar di depan pintu. Ia tahu bahwa bendera putih
tersebut menandakan kebenaran akan telefon yang Ia terima barusan. Seketika
semuanya terasa gelap. Dan ketika Shela terbangun, Indo telah berada di dalam erong
dengan pakaian kesayangannya. Bertahun-tahun Indo sakit di dalam erong, menunggu
rambu solo’. Bagi Shela hal itu
adalah hal terburuk yang pernah dilalui seumur hidupnya.
Shela
bangun sedikit kesiangan, sebab semalam ia lagi-lagi tidur malam karena
mengingat kenangan dirinya dan Indo.
Hari ini tiba waktunya ritual ma’papengkalao.
Sebuah ritual yang dilakukan untuk memindahkan jasad Indo yang telah disemayamkan di tongkonan
semalam untuk dipindahkan ke dalam alang.
Warga dan keluarga bahu membahu menurunkan erong dari tongkonan.
Lamba-lamba sebagai penunjuk jalan menuju alang dibawa oleh perempuan-perempuan yang berpakaian hitam.
Terdapat juga sosok tau-tau yang
terlihat begitu mirip dengan Indo. Shela
berada di antara kerumunan orang termenung melihat tau-tau. Tau-tau yang ada mengingatkan Shela akan sosok Indo yang dicintainya beserta dengan
ribuan kenangan yang dimilikinya. Tau-tau
tersebut Shela pesan dari seorang ahli kayu pembuat tau-tau terbaik di Toraja sehingga terlihat begitu mirip dengan
sosok Indo. Prosesi ma’papengkalao yang berlangsung membuat
upacara rambu solo’ terasa hidup.
Suasana mulai terasa ramai di malam hari, sebab warga sekitar mulai melakukan ma’badong. Suaranya terdengar hingga
jauh seolah menghangatkan kehidupan malam yang biasanya sunyi.
***
Para
keluarga dekat dan kerabat mulai berdatangan satu persatu. Mereka datang
membawa keperluan logistik. Hari itu
adalah hari datangnya para kelurga dekat dan saudara untuk mangisi lantang. Tak lupa mereka membawa keperluan logistik yang
cukup banyak. Keperluan logistik yang mereka bawa mereka peruntukkan sebagai
bentuk partisipasi. Salah satu orang yang datang adalah Roby. Seorang lelaki
yang sudah lama menjadi teman dekat Shela selama ini. Roby juga adalah kawan
semasa kuliah Shela dahulu. Roby banyak membantu Shela selama ini untuk
mengumpulkan uang keperluan rambu solo’ bagi
Indo Shela.
“Bagaimana
perjalananmu dari ibu kota?” tanya Shela
ketika mereka bertatap muka.
“Lumayan
melelahkan” dengan senyum tersungging di bibirnya, “bagaimana persiapan acara
besok?” tanya Roby kemudian.
“Semuanya
baik. Besok adalah hari besar untuk Indo karena
besok adalah acara ma’pasonglo . Terimakasih sudah datang lebih awal
untuk membantuku mengurus ini semua. Oh iya, mana Ambemu? Bukankah kamu janji untuk memperkenalkannya padaku hari
ini?”
“Ambe sedang ada urusan. Dia akan segera
menyusul setelah urusannya selesai nanti. Dan aku sudah membicarakan tentang
keseriusan hubunganku denganmu pada Ambe.
Dia bilang dia menurut saja karena dia percaya pilihanku”
“Semoga
saja memang ada jodoh untuk kita Roby. Mari kita temui Indo sebentar di alang. Aku
juga ingin Indo mengenalmu”
***
Warga
serta keluarga yang ada sudah mulai ramai berada di sekitar rante. Jasad Indo baru saja dipindahkan dari alang
ke lakian untuk disimpan selama
beberapa lama hingga menunggu waktu pemakaman tiba. Keramaian jauh lebih terasa
karena hari itu kerbau-kerbau pun siap untuk diadu sebagai hiburan yang
dihadirkan dalam upacara rambu solo’. Kerbau
terbaik milik Roby pun mulai beradu dengan kerbau terbaik milik Shela. Hal itu
menandakan acara mapasilaga tedong mulai
berlangsung sejak hari itu dan seterusnya. Shela dan Roby pun larut dalam
suasana meriah itu.
Roby
memang turut serta dalam pengadaan upacara rambu
solo’ bagi ibu dari kekasihnya. Ia ikut menyumbang kerbau bonga, kerbau
biasa, dan babi. Shela sebenarnya sudah menolak tapi Roby terus memaksa dengan
beralasan bahwa mereka akan segera menjadi suami istri segera setelah rambu solo’ bagi Indo Shela terlaksana. Dan hal itu membuat Shela tidak dapat lagi
untuk berkata tidak.
***
Setelah
ritual demi ritual dilewati. Kini tiba saatnya acara allo katongkonan. Para tamu dan kerabat jauh satu persatu mulai
menghadiri upacara rambu solo’. Mereka
memasuki lantang-lantang yang ada
untuk bertemu keluarga dekat dan keluarga jauh dari orang yang meninggal. Para
tamu disambut cukup baik. Di lantang-lantang
hidangan-hidangan khas Toraja tersedia dengan baik, tak ketinggalan tuak sebagai minuman arak khas Tana
Toraja juga tersedia di sana.
Salah
satu tamu yang datang adalah Tato. Ia adalah ayah dari Roby. Roby dan Shela
menyambut kedatangan ayah Roby di tongkonan.
Shela sudah lama menunggu pertemuan ini, bagi Shela ini adalah pertama kalinya
Shela bertemu dangan Tato ayah Roby.
“Ini
Shela ambe. Dia yang aku ceritakan
selama ini padamu”, Shela melempar senyum kepada Tato.
“Wajahmu
seperti tidak asing bagiku” komentar Tato melihat Shela.
“Mungkin
Ambe pernah melihat Shela di
televisi, sebab dia tak kalah cantiknya dengan para wanita yang sering muncul
di televisi” gurau Roby.
Sebenarnya entah mengapa Shela merasa bahwa ayah Roby
pernah Ia lihat juga sebelumnya. Tapi entah kapan. Mungkin hal itu hanya
imajinasinya saja. Shela tak mau larut memikirkan hal itu.
***
Ritual
demi ritual berjalan dengan lancar. Hal itu membuat hati Shela lega. Shela
memikirkan Indonya yang pasti bahagia
dengan upacara rambu solo’ yang
diadakan untuknya. Lagi-lagi Ia teringat pada Indonya yang dahulu selalu berpesan agar Shela berusaha keras dalam
setiap perjalanan hidup. Tak peduli orang merendahkannya karena Shela adalah
anak yang tidak memiliki ayah, namun Shela harus menjadi orang sukses agar tongkonan miliknya tak jatuh ke tangan
orang lain. Dan kini Shela berhasil, bahkan bisa mengadakan rambu solo’ yang meriah meskipun ia
hanya seorang perempuan yang terkadang direndahkan derajatnya.
Matahari
berada tepat di atas kepala. Namun antusias warga masih cukup baik untuk
mengelilingi rante. Para turis dan
wartawan pun berkumpul di tempat itu. Hari itu adalah waktunya mantaa. Pemotongan hewan kerbau dengan
sekali tebas yang akan segera dilakukan memicu banyaknya penonton. Shela juga
tak mau ketinggalan melihat ritual tersebut. Pawang telah siap menebas leher
kerbau, la bok duatalan terlihat
berkilau terkena sinar matahari. Dengan sekali tebas leher kerbau jatuh di
tanah bersimpah darah.
***
Di
luar rumah semuanya telah siap tersedia. Jasad Indo yang berada di lakian selama
ini dikeluarkan dari tempatnya. Menandakan hari pemakaman telah tiba. Shela
sedikit muram hari itu. Hatinya terasa sakit mengingat Indo kini akan benar-benar pergi. Tak dapat lagi Ia melihat wajahnya
di tongkonan jika rindu datang
padanya.
“Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah sebentar lagi Indo akan segera bahagia karena Ia bisa
segera hidup tenang di puyo?”
“Iya, kamu benar Roby. Aku juga bahagia karena Indo akan segera beristirahat dengan
tenang di puyo dengan para leluhur.”
“Keluarkan saja semua tangisanmu nanti. Tidak apa-apa.
Karena ini yang terakhir kalinya. Aku akan ada di sampingmu.”
Shela
dan Roby pun keluar menuju rante. Ada
yang berbeda hari itu. Suasana bahagia
yang biasanya terlihat kini terasa sedikit suram, namun kemeriahan tidak
terlepas di hari itu. Shela dan keluarga lainnya menangisi Indo yang akan dimakamkan. Sebab selama ini mereka telah larut
dalam suasana bahagia. Shela meneteskan air matanya dengan begitu deras, Roby
dan Tato berusaha sedikit menenangkan Shela yang tak henti-hentinya menangis.
Kini
jasad Indo yang ada di erong telah berada di dalam duba-duba. Warga bahu-membahu
menganggkat duba-duba. Suasana ramai
sangat terasa ketika duba-duba dibawa
menuju ke patane. Para warga yang
mengiringi jenazah saling dorong dan berteriak selama perjalanan menuju patane.
Shela,
Roby, dan Tato ikut mengiringi jenazah menuju patane. Ketika erong dikeluarkan
untuk diletakan ke patane, Tato
menyadari satu hal. Bahwa nama perempuan yang berada di dalam erong adalah nama wanita yang pernah
menjalin hubungan dengannya 30 tahun yang lalu. Kristina. Dan Tato tak pernah
tau ketika Ia meninggalkan Kristina, rupanya wanita itu sedang mengandung
benihnya. Tato hanya bisa terdiam melihat semua peristiwa itu karena kini Shela
dan Roby bahkan sudah menyiapkan rencana pernikahan mereka.
***
Daftar Istilah:
Indo : Ibu
Tedong bonga : Kerbau belang yang harganya ratusan juta untuk kematian
Rambu Solo : Upacara kematian Tana Toraja
Puyo : Surga
Pengirim:
Nama: Fitria .R
Seorang Mahasiswi di universitas swasta yang mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia