Kamis, 13 November 2014

Untuk Indo

0

Untuk Indo
Oleh Fitria

Matahari senja menyembunyikan diri di ujung sana, meninggalkan warna keemasan di Tana Toraja. Shela duduk di ujung tempat tidur yang sudah lusuh sambil memandang foto Indo. Ia larut dalam lamunan masa lalu ketika ia harus merantau jauh dari Tana Toraja demi rambu solo’ Indo tercinta.
Indo anakmu kini berhasil mengumpulkan uang untukmu. Indo akan segera bisa sampai puyo sekarang” bisiknya dengan air mata yang meleleh.
Shela adalah anak satu-satunya. Indonya adalah keturunan tana bulaan. Tongkonan yang dimilikinya pun penuh dengan tanduk kerbau. Hanya saja terakhir kali ketika Shela masih balita usaha Indo bangkrut sehingga seluruh harta yang ada dipakai untuk melunasi segala hutang. Shela hanya tinggal dengan Indo selama ini, tanpa pernah tau di mana keberadaan Ambe. Pernah sekali Shela menanyakan Ambe ketika Ia duduk di bangku SMA, namun justru tangisan Indo yang Shela dengar. Maka sejak hari itu Shela tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Ambe meskipun terkadang rasa penasaran menyelimuti pikirannya.
***
Pagi itu Shela seperti mendapat semangat baru. Tangisnya semalam terasa lebih meringankan hatinya. Shela sedikit girang mengingat hari itu akan dilaksanakan rambu solo’ untuk Indo. Rambu solo’ yang meriah dengan banyak korban kerbau dan babi yang akan dilaksanakan berhari-hari sebab Indo adalah keturunan tana bulaan.
Jasad Indo yang masih ada di rumah duka masih diselimuti dengan erong yang cantik. Sebentar lagi akan ada acara pemotongan hewan kerbau sebelum jasad Indo dipindahkan ke tongkonan untuk disemayamkan semalaman. Seekor kerbau sudah berada di simbuang seolah menunggu sang pawang untuk menebas lehernya. Kerbau tersebut seolah telah siap untuk menjadi kendaraan Indo menuju puyo. Tanpa sadar Shela melukis senyum di bibirnya. Tak lama kemudian, sang pawang membawa kerbau untuk dikorbankan. La bok duatalan telah siap di tangannya, dan dalam sekali tebas leher kerbau telah terpisah dari badannya menyemburkan darah yang merah. Jasad indo pun dipindahkan ke tongkonan.
Semalaman cukup ramai di tongkonan. Orang-orang seolah ikut menunggu jasad Indo di sana. Besok adalah hari besar untuk pelaksanaan rambu solo’ di rante. Shela duduk termenung melihat lantang-lantang yang telah beridiri di rante. Tak lama lagi tempat ini akan ramai dengan manusia bahkan turis yang ingin melihat terselenggaranya upacara rambu solo’. Ada rasa bangga yang menyusup ke hatinya seketika, sebab ia akhirnya bisa mengadakan rambu solo’ untuk Indo  meski harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Shela merasa usahanya selama ini membanting tulang akhirnya membawa hasil yang memuaskan bagi dirinya dan Shela berharap Indo pun merasa puas juga di sana.
Shela ingat betul bagaimana ia ditinggal oleh Indo. Saat itu Shela masih menjadi mahasiswa aktif di salah satu universitas ternama di Sulawesi Selatan. Shela bisa kuliah karena Shela seorang anak yang tekun sehingga Shela mendapat beasiswa untuk kuliah. Siang itu ia akan pulang ke rumahnya karena besok adalah hari ulang tahun Indo tercinta. Kabar duka Shela terima persis di depan rumahnya. Ketika itu handphonenya berdering sebelum Ia sempat masuk di halaman rumah. Telefon yang ia terima rupanya mengabarkan bahwa Indo telah pergi. Shela hanya membisu mendengar ucapan orang yang menelfonnya. Mata Shela tertuju pada bendera putih yang berkibar di depan pintu. Ia tahu bahwa bendera putih tersebut menandakan kebenaran akan telefon yang Ia terima barusan. Seketika semuanya terasa gelap. Dan ketika Shela terbangun, Indo telah berada di dalam erong dengan pakaian kesayangannya. Bertahun-tahun Indo sakit di dalam erong, menunggu rambu solo’. Bagi Shela hal itu adalah hal terburuk yang pernah dilalui seumur hidupnya.
Shela bangun sedikit kesiangan, sebab semalam ia lagi-lagi tidur malam karena mengingat kenangan dirinya dan Indo. Hari ini tiba waktunya ritual ma’papengkalao. Sebuah ritual yang dilakukan untuk memindahkan jasad Indo yang telah disemayamkan di tongkonan semalam untuk dipindahkan ke dalam alang. Warga dan keluarga bahu membahu menurunkan erong dari tongkonan. Lamba-lamba sebagai penunjuk jalan menuju alang dibawa oleh perempuan-perempuan yang berpakaian hitam. Terdapat juga sosok tau-tau yang terlihat begitu mirip dengan Indo. Shela berada di antara kerumunan orang termenung melihat tau-tau. Tau-tau yang ada mengingatkan Shela akan sosok Indo yang dicintainya beserta dengan ribuan kenangan yang dimilikinya. Tau-tau tersebut Shela pesan dari seorang ahli kayu pembuat tau-tau terbaik di Toraja sehingga terlihat begitu mirip dengan sosok Indo. Prosesi ma’papengkalao yang berlangsung membuat upacara rambu solo’ terasa  hidup. Suasana mulai terasa ramai di malam hari, sebab warga sekitar mulai melakukan ma’badong. Suaranya terdengar hingga jauh seolah menghangatkan kehidupan malam yang biasanya sunyi.
***
Para keluarga dekat dan kerabat mulai berdatangan satu persatu. Mereka datang membawa keperluan logistik.  Hari itu adalah hari datangnya para kelurga dekat dan saudara untuk mangisi lantang. Tak lupa mereka membawa keperluan logistik yang cukup banyak. Keperluan logistik yang mereka bawa mereka peruntukkan sebagai bentuk partisipasi. Salah satu orang yang datang adalah Roby. Seorang lelaki yang sudah lama menjadi teman dekat Shela selama ini. Roby juga adalah kawan semasa kuliah Shela dahulu. Roby banyak membantu Shela selama ini untuk mengumpulkan uang keperluan rambu solo’ bagi Indo Shela.
“Bagaimana perjalananmu dari ibu kota?” tanya Shela ketika mereka bertatap muka.
“Lumayan melelahkan” dengan senyum tersungging di bibirnya, “bagaimana persiapan acara besok?” tanya Roby kemudian.
“Semuanya baik. Besok adalah hari besar untuk Indo karena besok adalah acara ma’pasonglo . Terimakasih sudah datang lebih awal untuk membantuku mengurus ini semua. Oh iya, mana Ambemu? Bukankah kamu janji untuk memperkenalkannya padaku hari ini?”
Ambe sedang ada urusan. Dia akan segera menyusul setelah urusannya selesai nanti. Dan aku sudah membicarakan tentang keseriusan hubunganku denganmu pada Ambe. Dia bilang dia menurut saja karena dia percaya pilihanku”
“Semoga saja memang ada jodoh untuk kita Roby. Mari kita temui Indo sebentar di alang. Aku juga ingin Indo mengenalmu”
***
Warga serta keluarga yang ada sudah mulai ramai berada di sekitar rante. Jasad Indo baru saja dipindahkan dari alang ke lakian untuk disimpan selama beberapa lama hingga menunggu waktu pemakaman tiba. Keramaian jauh lebih terasa karena hari itu kerbau-kerbau pun siap untuk diadu sebagai hiburan yang dihadirkan dalam upacara rambu solo’. Kerbau terbaik milik Roby pun mulai beradu dengan kerbau terbaik milik Shela. Hal itu menandakan acara mapasilaga tedong mulai berlangsung sejak hari itu dan seterusnya. Shela dan Roby pun larut dalam suasana meriah itu.
Roby memang turut serta dalam pengadaan upacara rambu solo’ bagi ibu dari kekasihnya. Ia ikut menyumbang kerbau bonga, kerbau biasa, dan babi. Shela sebenarnya sudah menolak tapi Roby terus memaksa dengan beralasan bahwa mereka akan segera menjadi suami istri segera setelah rambu solo’ bagi Indo Shela terlaksana. Dan hal itu membuat Shela tidak dapat lagi untuk berkata tidak.
***
Setelah ritual demi ritual dilewati. Kini tiba saatnya acara allo katongkonan. Para tamu dan kerabat jauh satu persatu mulai menghadiri upacara rambu solo’. Mereka memasuki lantang-lantang yang ada untuk bertemu keluarga dekat dan keluarga jauh dari orang yang meninggal. Para tamu disambut cukup baik. Di lantang-lantang hidangan-hidangan khas Toraja tersedia dengan baik, tak ketinggalan tuak sebagai minuman arak khas Tana Toraja juga tersedia di sana.
Salah satu tamu yang datang adalah Tato. Ia adalah ayah dari Roby. Roby dan Shela menyambut kedatangan ayah Roby di tongkonan. Shela sudah lama menunggu pertemuan ini, bagi Shela ini adalah pertama kalinya Shela bertemu dangan Tato ayah Roby.
“Ini Shela ambe. Dia yang aku ceritakan selama ini padamu”, Shela melempar senyum kepada Tato.
“Wajahmu seperti tidak asing bagiku” komentar Tato melihat Shela.
“Mungkin Ambe pernah melihat Shela di televisi, sebab dia tak kalah cantiknya dengan para wanita yang sering muncul di televisi” gurau Roby.
Sebenarnya entah mengapa Shela merasa bahwa ayah Roby pernah Ia lihat juga sebelumnya. Tapi entah kapan. Mungkin hal itu hanya imajinasinya saja. Shela tak mau larut memikirkan hal itu. 
***
Ritual demi ritual berjalan dengan lancar. Hal itu membuat hati Shela lega. Shela memikirkan Indonya yang pasti bahagia dengan upacara rambu solo’ yang diadakan untuknya. Lagi-lagi Ia teringat pada Indonya yang dahulu selalu berpesan agar Shela berusaha keras dalam setiap perjalanan hidup. Tak peduli orang merendahkannya karena Shela adalah anak yang tidak memiliki ayah, namun Shela harus menjadi orang sukses agar tongkonan miliknya tak jatuh ke tangan orang lain. Dan kini Shela berhasil, bahkan bisa mengadakan rambu solo’ yang meriah meskipun ia hanya seorang perempuan yang terkadang direndahkan derajatnya.
Matahari berada tepat di atas kepala. Namun antusias warga masih cukup baik untuk mengelilingi rante. Para turis dan wartawan pun berkumpul di tempat itu. Hari itu adalah waktunya mantaa. Pemotongan hewan kerbau dengan sekali tebas yang akan segera dilakukan memicu banyaknya penonton. Shela juga tak mau ketinggalan melihat ritual tersebut. Pawang telah siap menebas leher kerbau, la bok duatalan terlihat berkilau terkena sinar matahari. Dengan sekali tebas leher kerbau jatuh di tanah bersimpah darah.
***
Di luar rumah semuanya telah siap tersedia. Jasad Indo yang berada di lakian selama ini dikeluarkan dari tempatnya. Menandakan hari pemakaman telah tiba. Shela sedikit muram hari itu. Hatinya terasa sakit mengingat Indo kini akan benar-benar pergi. Tak dapat lagi Ia melihat wajahnya di tongkonan jika rindu datang padanya.
Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah sebentar lagi Indo akan segera bahagia karena Ia bisa segera hidup tenang di puyo?
Iya, kamu benar Roby. Aku juga bahagia karena Indo akan segera beristirahat dengan tenang di puyo dengan para leluhur.
Keluarkan saja semua tangisanmu nanti. Tidak apa-apa. Karena ini yang terakhir kalinya. Aku akan ada di sampingmu.
Shela dan Roby pun keluar menuju rante. Ada yang berbeda hari itu. Suasana  bahagia yang biasanya terlihat kini terasa sedikit suram, namun kemeriahan tidak terlepas di hari itu. Shela dan keluarga lainnya menangisi Indo yang akan dimakamkan. Sebab selama ini mereka telah larut dalam suasana bahagia. Shela meneteskan air matanya dengan begitu deras, Roby dan Tato berusaha sedikit menenangkan Shela yang tak henti-hentinya menangis.
Kini jasad Indo yang ada di erong telah berada di dalam duba-duba. Warga bahu-membahu menganggkat duba-duba. Suasana ramai sangat terasa ketika duba-duba dibawa menuju ke patane. Para warga yang mengiringi jenazah saling dorong dan berteriak selama perjalanan menuju patane.
Shela, Roby, dan Tato ikut mengiringi jenazah menuju patane. Ketika erong dikeluarkan untuk diletakan ke patane, Tato menyadari satu hal. Bahwa nama perempuan yang berada di dalam erong adalah nama wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya 30 tahun yang lalu. Kristina. Dan Tato tak pernah tau ketika Ia meninggalkan Kristina, rupanya wanita itu sedang mengandung benihnya. Tato hanya bisa terdiam melihat semua peristiwa itu karena kini Shela dan Roby bahkan sudah menyiapkan rencana pernikahan mereka.
*** 

Daftar Istilah:
Indo : Ibu
Tedong bonga : Kerbau belang yang harganya ratusan juta untuk kematian
Rambu Solo : Upacara kematian Tana Toraja
Puyo : Surga

Pengirim:
Nama: Fitria .R
Seorang Mahasiswi di universitas swasta yang mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Kamboja di Atas Nisan

0

Kamboja di Atas Nisan

Oleh Herman RN

Tubuhnya gemetar. Perlahan tangan perempuan itu bergerak, menyusuri lekuk-lekuk batu tanah gundukan di hadapannya. Tangannya yang sebelah lagi meremas-remas tanah. Badannya kian bergetar hebat tatkala ia berusaha menahan air yang nyaris melabrak kelopak matanya.
”Ibu, apa karena kita perempuan?” lirihnya.
Gadis itu menghela napas. Kamboja, demikian namanya. Ia anak tunggal. ”Ibu, kau sudah melahirkanku dalam keadaan susah payah. Saat itu kita harus mengungsi karena kampung kita didatangi kelompok bersenjata. Orang-orang kampung kita pun diklaim sebagai pemberontak. Ibu lari terbirit-birit sambil membawaku dalam perut ibu. Begitu cerita yang kudengar dari Nek Mah, bidan kampung kita,” ucapnya sambil menahan tangis.
Kamboja dilahirkan dalam hutan di pinggir kampungnya. Saat itu, mereka mengungsi hingga empat puluh hari. Ia lahir pada hari kelima di pengungsian. Saat itu, ibu Kamboja ditolong oleh Nek Mah, seorang perempuan setengah baya yang sebenarnya bukan bidan, pun bukan dokter. Kebetulan Nek Mah pernah diajarkan sebuah isim* oleh orangtuanya. Isim itu disebut seulusoh* dalam bahasa mereka. Dengan keahlian seulusoh itulah, Nek Mah membantu ibu Kamboja melahirkan. Kamboja lahir sungsang. Kakinya lebih dahulu menonjol, baru kemudian kepala.
”Ibu, kata Nekmah, ibu sangat kesakitan ketika melahirkan aku. Perut ibu serasa dililit akar. Perih. Nek Mah pula yang mengatakan kalau perih ibu ditolong dengan daunmariam. Ibu, bisa kubayangkan menderitanya ibu saat itu. Aku yang lahir sungsang, ibu yang kesakitan. Sedangkan ayah? Ibu….”
Kamboja masih berusaha menahan tangis. Tubuhnya bergetar semakin kencang. Tangan kanannya terus menelusuri lekuk batu nisan di tanah gundukan di hadapannya. Tangan kirinya semakin kuat mencengkeram tanah di sampingnya.
”Aku tak bisa menyalahkan ayah, Ibu. Ayah memang meninggalkan ibu, meninggalkan kita. Tapi, ayah terpaksa. Kaum laki tak boleh hidup di kampung kita waktu itu. Semua lelaki lari dan bersembunyi. Makanya banyak yang memilih bergabung dengan kelompok pemberontak. Perempuan diminta untuk di rumah, jika tak mau mengungsi ke hutan. Aku tahu itu, Ibu. Hanya saja, mengapa kita tidak boleh ikut melawan, Ibu? Apa karena kita perempuan?”
Kamboja akhirnya tidak dapat menahan air matanya. Ia sesenggukan. Bening yang telah lama mengambang itu pecah juga dari balik kelopak matanya yang berbulu lentik. Satu per satu bening itu jatuh menimpa pinggiran nisan ibu Kamboja.
”Ayah mati terkena peluru nyasar. Tepat sehari sebelum perjanjian damai antara pemberontak dan pemerintah. Apa salah ayah? Ah, terlalu sulit memberi alasan antara salah dan benar di kampung ini, Ibu. Mengapa terlalu cepat ibu tinggalkan aku?”
Kamboja menjatuhkan kepalanya di batu nisan tersebut. Beberapa kali ia benturkan kepalanya ke batu itu. Ia bisikkan sesuatu di sana. Suaranya pelan. Hampir tak terdengar di antara angin siang yang sedikit kencang.
”Ibu, jika setelah berbaring pun ketenanganmu mesti terusik, katakan pada Tuhan, biarkan aku yang menggantikan kau di sini,” lirihnya.
Lama Kamboja diam setelah mengucapkan kata-kata itu. Tubuhnya masih bergetar, kendati matahari sudah di puncak kepala. Kamboja mandi keringat. Namun, sedikit pun ia tak menyeka keringat itu. Ia bahkan nyaris melupakan letak kerudungnya yang melorot ke pundak. Rambutnya yang biasa tersimpan rapi di balik kerudung itu mulai tampak. Angin pun membelai rambut hitam keriting itu.
”Ibu, bagaimana lagi caranya mengatakan kepada mereka tentang penderitaanmu, penderitaan kaum perempuan? Lihat, Ibu! Kau besarkan aku tanpa ayah. Kau bekerja upahan untuk memberiku makan. Kau sekolahkan aku hingga tingkat menengah. Kau pula yang mengajarkan aku agar hidup tak mudah menyerah.”
Kamboja berhenti sejenak. Ia tengadah ke langit. Sinar matahari tepat menghunjam retina mata Kamboja. Ia tak berkedip. Hanya memicingkan mata sedikit.
”Tuhan…,” suara Kamboja setengah menjerit. ”Apalagi yang akan kau timpakan kepada kami? Tidak cukupkah derita masa hidupnya? Setelah ia berbaring di tanah-Mu, apakah harus diusik juga? Jawab, Tuhan? Bukankah kau Maha Mendengar?! Mengapa Kau diam? Nanti atau besok, tanah ini akan diratakan, di mana aku harus menempatkan ibuku? Tak cukupkah masa perang tanah air kami dirampas? Di mana Kau Tuhan saat kampung kami dalam perang? Di mana pula Kau saat sudah damai?”
Kamboja sesenggukan. Ia bersimpuh di hadapan nisan ibunya. Lehernya menekuk. Kepalanya nyaris menyentuh lutut. Tubuhnya masih terus bergetar. Isaknya pun mulai deras.
”Ibu, bagaimana caranya aku mempertahankanmu? Besok pagi, tempat peristirahatanmu ini akan diratakan. Kau ingat dulu waktu kampung kita berkecamuk? Orang-orang kampung berperang dengan tentara pemerintah. Kini, tentara pemerintah pula yang akan menjarah rumahmu ini, Ibu.”
Dua pekan lalu, rombongan dari kabupaten mendatangi kepala kampung tempat Kamboja tinggal. Mereka membicarakan soal pembangunan hotel berbintang yang akan didirikan di kampung itu. Menurut berita, hotel itu akan dibangun dengan standar internasional. Ada mal juga nantinya di dalam hotel tersebut. Untuk itu, akan terjadi pembebasan tanah. Salah satu lokasi yang mendapat imbas pembebasan tanah adalah kompleks pemakaman umum korban konflik. Di sanalah ibu Kamboja dan sejumlah janda konflik dimakamkan. Menurut investor, lahan pekuburan massal itu sangat strategis untuk dibangun hotel mahamegah.
”Ibu, sampai saat ini aku tidak tahu di mana ayah dikuburkan. Mayatnya pun tak ada yang menemukan. Ibu dimakamkan di sini sebagai janda konflik. Ibu adalah ibu sekaligus ayah bagiku. Dulu, mereka (pemerintah—Pen) yang membuat lokasi pemakaman di sini. Alasannya, dekat dengan kompleks pemakaman pahlawan masa Belanda. Kini, mereka pula yang akan menggerus pemakaman ini, Ibu. Pemerintah itu tidak punya otak, Ibu. Mereka hanya memikirkan uang, uang, dan uang.”
Tangis Kamboja semakin menjadi. ”Ke mana ibu akan kubawa? Kita tak punya apa-apa lagi. Apa Ibu harus kubawa ke kota tempatku sekarang? Di kota, aku menyewa rumah kontrakan sederhana sambil melanjutkan sekolah. Aku sekolah ke kota demi Ibu. Ibu yang mengatakan bahwa perempuan juga harus punya cita-cita, harus sekolah tinggi. Kata Ibu, aku harus sekolah hingga ke universitas. Dari jauh aku selalu berdoa agar Ibu bisa istirahat dengan tenang di kampung kita. Setiap libur sekolah, aku selalu menjengukmu. Jika esok hari pemakaman ini akan diratakan oleh pemerintah demi gedung bertingkat, ke mana lagi aku akan melihat Ibu saat libur semester nanti?”
Kali ini Kamboja terdiam lebih lama. Ia berusaha mengatur napas. Ia tatap bagian kepala nisan ibunya. Lalu tatapannya berpindah ke bagian badan. Selanjutnya ke batu di bagian kaki. Lama tatapan itu berhenti di sana.
Kamboja bangkit, menuju bagian kaki ibunya. Ia duduk perlahan. Kedua telapak tangannya menyentuh batu nisan itu. Lalu, kepalanya ia tundukkan agar dapat mencium nisan di kaki ibunya.
”Ibu, terimalah sembah sujudku. Ampuni segala ketidakberdayaanku. Aku berjanji akan berusaha mempertahankan Ibu walau mungkin itu mustahil. Di tempat ini, bukan hanya
ibu dikuburkan. Masih banyak korban konflik lainnya. Mustahil memang bagiku untuk mempertahankan Ibu sendiri, sedangkan keluarga korban lainnya sudah menerima uang pembebasan tanah ini. Mereka telah menjual ayah ibunya yang dimakamkan di sini. Mereka lebih memilih setumpuk uang dari pemerintah tanpa menyadari orangtuanya di sini akan dipijak-pijak, akan diluluhlantakkan dengan mesin penggiling.”
Kamboja mengangkat kepala. Dipandanginya nisan ibunya dengan garang. Tatapannya nyalang. ”Aku tidak akan menjual Ibu kepada pemerintah atau kepada siapa pun. Meski aku harus mati di sini, aku tetap akan mempertahankan Ibu.”
Kamboja kembali menangis, tapi kali ini suaranya memelan. ”Ibu, ajari aku bagaimana caranya melawan pemerintah? Aku tidak punya senjata, Ibu!”
Perlahan terdengar suara langkah kaki mendekat. Sayup-sayup ada yang bicara.
”Di sinilah akan kita bangun hotel itu, Pak. Luasnya seribu meter persegi, hingga di pojok sana,” ucap sebuah suara penuh semangat.
”Di situ? Bukankah itu kompleks pemakaman?” suara parau menyela.
”Benar, Pak. Tapi, Bapak tenang saja. Semua sudah diatur. Izin penggunaan lahan pemakaman ini sudah diurus. Semua orang yang punya hubungan kekerabatan dengan yang dimakamkan di sini sudah didatangi. Mereka mendapatkan haknya. Semua sudah beres, Pak.”
”Pemakaman apa itu?”
”Pemakaman korban konflik, Pak.”
”Hm…, apa tidak berbahaya nantinya mendirikan hotel di atas makam, makam korban konflik pula? Pasti ada yang mati berdarah di sini.”
”Ah, Bapak ini ada-ada saja. Mana ada orang mati bisa hidup lagi.”
Kamboja bangkit. Dari makam ibunya, ia berteriak. ”Siapa pun kalian, menghormati hak-hak orang yang masih hidup itu memang susah, apalagi rakyat kecil. Namun, menghormati ketenangan orang yang sudah mati, apakah juga tidak kalian miliki? Di mana nurani kalian? Di sini terkubur saksi kezaliman masa konflik. Apa kalian mau mereka jadi saksi kezaliman kalian di hadapan Tuhan?”
”Siapa dia?”
”Dia, Pak? Dia kayaknya orang gila. Sudah tiga hari dia menangis terus di makam itu.”
Kamboja mendekati orang tersebut. ”Ya, saya sudah gila. Saya gila karena mempertahankan hak-hak orang mati. Makam ini adalah rumah mereka yang telah istirahat dengan tenang. Saya gila karena menginginkan ketenangan mereka. Sedangkan kalian, gila karena ingin hotel megah tanpa melihat penderitaan orang lain.”
Lelaki yang sedari tadi disapa ”bapak” berbalik meninggalkan lokasi pemakaman. ”Anda bilang semua sudah beres. Kasus makam ini ternyata belum selesai,” ujarnya sembari meninggalkan tempat itu.
Darussalam, 2012-2013

Ilustrasi Karya : Jitet Kustana
Terbit di Harian Kompas pada 5 Januari 2014

Doa Disetiap Air Mataku

0

DOA DISETIAP AIR MATAKU
Karya Rachma Mamlu'atul Maulla

Aku masih termenung di antara rintikan air hujan sore ini,berharap mendapatkan inspirasi agar dapat membuat cerpen dan menambah koleksi cerpenku,tapi bukan inspirasi cerita yang ku dapatkan,melainkan pernyataan abah jika aku akan di kirim ke pesantren untuk meneruskan studyku,itu bukan pilihanku,aku tak pernah berpikiran jika aku akan di pondokkan,bagiku itu sama saja dengan di penjara,aku tak lagi dapat membuat cerpen ataupun main dengan teman-temanku,huffttt....ku usap kaca jendelaku yang ber embun dengan telapak tanganku . . .
‘’Selna . . . abah udah daftarin kamu di pesantren tempat abah dan tetehmu dulu menimba ilmu,besok kamu ikut abah kesana buat ngasih formulir ini,isi formulir ini’’.ujar abah menyodorkan selembar kertas padaku,aku hanya menganggukkan kepala menerima kertas dari abah dan masuk kedalam kamar,ku tenggelamkan mukaku di antara bantal dan boneka-boneka kesayanganku,ku peluk erat-erat benda milikku yang ada di kamar,mungkin sebentar lagi aku akan meninggalkan ini semua,mungkin aku akan kehilangan ini semua,ku lirik tumpukan novel di rak bukuku,dan mungkin juga tumpukan novel itu akan berubah menjadi tumpukan kitab kuning ataupun al qur’an yang akan menemani setiap hariku,
‘’Selna...makan malam dulu nak,abah sudah menunggu di ruang makan’’,kata umi membuka pintu kamarku
‘’selna masih kenyang umi,selna mau tidur aja ya’’.kataku
‘’baiklah....’’.kata umi pengertian menutup pintu kamarku.
****
Hari ini aku akan berangkat ke pesantren dengan baju dan barang-barang yang boleh ku bawa,tentunya aku harus meninggalkan laptop dan boneka-boneka yang selalu menemani tidur malamku,segera aku berpamitan pada abah dan umi setelah mobil jemputan sampai di depan rumahku . .
‘’mantabkan hatimu,kamu harus ingat untuk apa kamu kesana,jangan salah pengertian’’.kata abah mengelus jibab yang menutup kepalaku
‘’jaga kondisi kamu ya na,seminggu sekali atau 2 minggu sekali abah dan umi pasti akan menyambangimu,jangan kwatir ya,allah pasti akan selalu melindungimu selagi niat kamu itu baik’’.pesan umi padaku,aku hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa,aku tak tau apa aku siap menjalani hariku yang baru,aku melihati setiap sudut rumahku . . .selamat tinggal,batinku memasuki mobil,dari kaca jendela mobil yang tak transparan itu terlihat jika umi tengah menangis dan bernego dengan abah,tapi abah hanya menggandeng umi masuk kedalam rumah, dari kecil memang umi yang paling dekat dan selalu mendukung aku,tapi kali ini umi hanya menuruti kemauan abah untuk megirim aku ke pesantren,hmmmmm.... ku sandarkan kepalaku dan menutup mataku berharap jika aku segera terbangun dari mimpi buruk ini . . .
****

Aku tlah sampai di pesantren yang akan mengubah hidupku,orang-orang di sekelilingku begitu asing di mataku, ada sekerumunan perempuan berjilbab tengah mendiskusikan tugas mereka,ada juga yang tengah asyik menyantab makanan mereka bersama-sama,dan ada pula yang menghabiskan waktunya untuk membaca al qur’an di kamarnya,aku masuk kedalam kamarku,menata semua barangku,kurasa semua menjadi berjalan dengan lancar hingga aku mendapatkan teman,minggu pertama,kedua dan ketiga abah dan umi masih menjengukku seperti teman-temanku yang lain,hingga pada akhirnya aku aku tak mendapati abah dan umi menjengukku,aku hanya terdiam di antara teman-temanku yang tengah asyik menumpahkan isi hatinya pada orang tuanya . .
‘’Selna....selamat ya’’.rani teman sekamarku menghampiriku
‘’selamat???selamat buat apa?’’,aku tak mengerti
‘’atas kelahiran anak pertama tetehmu,tadi sewaktu ibuku menyambangiku beliau bilang jika tetehmu melahirkan bayi laki-laki,menurutnya abah dan umimu sangat gembira dengan kelahirannya,aku pikir kamu juga begitu’’.kenang rani,aku terdiam sejenak
‘’pasti...’’.ku anggukkan kepalaku
‘’oiya aku ada jam ngaji nih,aku pergi dulu ya na’’.kata rani berlalu dari hadapanku,aku terdiam,jadi ini alasannya mengapa abah dan umi tak lagi mengunjungiku,apa mereka nggak tau jika aku sangat merindukan mereka,apa kehadiran anak teteh tlah menggantikan posisiku di rumah,apa mereka membuangku,apa mereka tak pernah memikirkan keadaanku sekarang,uangku juga semakin menipis,aku nggka bisa terus-terusan seperti ini,aku harus bisa menghidupi diriku,ya...aku harus bisa lakukan itu...
*****

‘’kamu itu suka banget menyendiri ya’’.kata efril duduk di sampingku,cowok yang di kagumi banyak cewek di sekolahku karna kegantengan dan ketajiran orang tuanya itu
‘’emangnya kenapa???’’.tanyaku balik
‘’kamu selalu duduk menyendiri disini,aku pikir kamu suka menulis,kamu nggak mau ketawa-tawa bareng teman temanmu seperti itu’’.katanya mengarahkan jari telunjuknya di antara kerumunan para santri yang tengah asyik bercanda
‘’kata siapa aku nulis??’’.
‘’ini...aku nemuin ini disini kemarin sewaktu kamu meninggalkan tempat ini,cerpen kamu bagus kok’’.dia menunjukkan lembaran kertas yang berisi cerpenku yang terjatuh kemarin,pujinya yang membuatku tersipu malu
‘’hmmmm aku lebih suka di tempat yang tenang seperti ini,menghabiskan waktu dengan merasakan semilir angin yang menerpaku,dengan begitu aku bisa mendapatkan inspirasi dan aku bisa membuat cerita’’.kataku antusias
‘’buat apa kamu membuat cerita sebanyak itu jika kau tak mendapatkan hasilnya’’.katanya
‘’aku itu bukan anak yang hanya mengandalkan uang dari orang tuanya’’.aku menyelanya
‘’bu..bukan itu maksud aku,kamu kan bisa mempublikasikan cerita-cerita kamu dan kamu bisa mendapat uang’’.efril merasa tak enak hati karna tlah berkata seperti itu
‘’hmmmmmm...’’,aku menimbang-nimbang kata-kata efril
‘’katanya pingin punya uang????’’.efril meledekku
‘’iya sih,tapi gimana caranya aku melakukan itu semua,kamu kan tau sendiri jika aku tinggal di pesantren dan tidak di perbolehkan membawa laptop’’.aku berdiri memunggungi efril
‘’kamu kan punya hari minggu’’.
‘’terus????’’.
‘’kan kamu bisa ke warnet untuk mempublikasikan cerpenmu itu,mengirim cerpen-cerpenmu ke majalah agar mendapatkan uang,beres kan’’.efril nyengir
‘’pinter juga kamu’’.aku terseyum mendengar ide darinya
‘’efril....’’.dia semakin menunjukkan gigi-gigi putihnya itu,aku tak percaya jika dia memiliki pemikiran yang dewasa seperti itu,aku pikir dia Cuma mau berteman dengan orang sederajatnya saja,ternyata dia juga mau nyamperin aku dan membantuku yang tak sepadan dengannya,kini aku di sibukkan dengan membuat cerpen,hingga aku sering tidak mengikuti pelajaran karena aku selalu izin pergi ke lap komputer ataupun warnet dengan alasan untuk mengerjakan tugasku,dan kini aku mendapatkan keinginanku,cerpenku tlah di muat dan aku mendapatkan honorku,cukuplah untuk sekedar membiayai makanku setiap hari,tapi...aku sering mendapat nilai di bawah 70 karena sering tidak mengikuti pelajaran,hingga suatu ketika abah dan umi menyambangiku di pesantren di waktu jam besuk santri...
‘’abah ....’’.ku cium tangan abah dan umi
‘’kamu ini apa-apaan,kenapa raport kamu merah,abah mendapat laporan dari guru kamu jika kamu sering nggak ikut pelajaran,kamu sering tidur di kelas,apa kamu lupa tujuan kamu disini untuk apa???’’,
‘’tapi abah . . .’’.aku mencoba membela diriku,tapi percuma,amarah telah menggelegak di dalam sanubari orang tua itu
‘’tapi apa,kamu mau bilang jika pesantren bukan tempat kamu,jika kamu nglakuin ini semua karna terpaksa,iya...kamu itu harus bisa hidup mandiri,kamu harus bisa mengatur dan menghidupi dirimu sendiri,kamu nggak bisa terus-terusan menggantungkan hidupmu pada orang lain,kamu harus mempersiapkan dirimu jika suatu ketika abah atau umimu sudah tidak ada,kamu harus bisa berdiri di atas kakimu sendiri ‘’.abah melotot matanya
‘’abah sudah abah,kecilkan suara abah,malu di lihat orang tua santri yang lain,istigfar abah istigfar’’,umi mengelus dada abah,abah mencoba mengatur nafasnya dan aku hanya menunduk, jam besuk sudah habis dan aku harus segera masuk kedalam pesantren,
‘’maafin selna abah,umi,selna janji akan nglakuin yang terbaik buat diri selna,’’kataku
‘’iya nak,lakukan yang terbaik buat dirimu,turuti kata hatimu,karna perubahan itu hanya akan datang dari diri kamu sendiri’’.kata umi memelukku,kupeluk umi dan mencium tangan abah,
‘’suatu saat kau akan mengerti apa yang abah maksud nak’’.kata abah memegang dadanya,aku menunduk,berlalu dari hadapan abah,ingin aku menangis,tapi aku harus ingat jika aku tak boleh nangis,aku nggak boleh cengeng....
*****

‘’hey ....’’.efril mendekatiku
‘’hmmmmm efril’’.ku lontarkan senyumanku padanya
‘’kenapa sih,kok kelihatannya sedih gitu’’.tanyanya
‘’nggak..nggak papa kok,aku nggak lagi sedih,justru aku tengah bahagia karna tlah mendapatkan semuanya’’.kataku tersenyum kecut
‘’oiya????bohong,kamu belum mendapatkan segalanya’’.katanya memalingkan muka
‘’kata siapa,aku menang,aku tlah mendapatkan semuanya,cerpen-cerpenku tlah di muat di majalah-majalah,dan aku tinggal nunggu panggilan untuk membuat novel,kurang apa’’.aku beranjak, memunggunginya
‘’kamu memang tlah mendapatkan semuanya selna,kamu memang menang,tapi kamu kalah selna kamuu kalah,kamu nggak bisa memenangkan hatimu,kamu nggak bisa menuruti kata hatimu,kamu selalu membohongi hatimu’’.akunya
‘’kata siapa,aku suka dengan hidupku yang sekarang,aku bahagia’’.
‘’menangislah na,jika kamu memang ingin menangis,aku tau yang kamu rasain,kamu kecewa dengan keputusan orang tuamu kan,kamu kecewa karna mereka membawamu kesini,kamu kecewa karna apa yang kamu inginkan selalu bertengtangan dengan abahmu’’.
‘’kamu sok tau,aku tak pernah berpikiran sejauh itu’’.kataku menatapnya
‘’sorotan matamu yang mengatakan itu semua padaku na’’.dia menatapku dengan tajam,aku terdiam
‘’aku lemah fril,aku lemah,aku nggak tau apa yang aku rasakan ini hanya lah perasaanku saja atau memang begitu kenyataannya,yang pasti aku kecewa dengan mereka,terutama abah,beliau begitu marah denganku hanya karna raportku merah,padahal aku begitu karna aku ingin nyari uang sendiri,sedangkan dulu waktu tetehku memiliki kesalahan abah tak pernah semarah itu padaku,aku ingat sangat sangat ingat pesan pesan abah padaku,tapi nggak gini caranya,abah dengan gampangnya memaafkan kesalahan teteh sedangkan aku....nggak fril nggak,aku sakit,hatiku menangis,dari kecil aku merasakan ini,tapi aku selalu membuang perasaan ini jauh-jauh karna aku nggak mau mengundang rasa benci di benakku, karna aku sayang sama abah fril’’.akuku
‘’menangislah na’’.afril memberikan pundaknya
‘’nggak fril,aku udah janji jika aku tak akan menangis hanya karna masalah seperti ini, aku ingin membendung air mataku,karna suatu saat aku akan menangis karna orang yang aku sayang akan pergi dariku’’,kataku
‘’setiap orang tua slalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya,nggak ada orang tua yang nggak sayang dengan anaknya,suatu saat kau akan tau apa maksud abahmu kenapa abahmu begitu keras sama kamu na’’.efril menepuk pundakku,aku tersenyum
‘’makasih ya fril,kau sudah mau menjadi temanku’’.aku menoleh padanya
‘’aku akan slalu jadi temanku na,tenanglah..’’,katanya menepuk pundakku’’masuk yuk’’.ajaknya dan aku hanya mengekor di belakangnya.... semenjak itu abah dan umi tak lagi menjengukku,tak sekalipun,aku mencoba menguatkan hati,mulai aku menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh,aku harus bisa memegang kata-kataku,saat aku rindu dengan abah dan umi aku selalu mengirim surat,aku juga tak lupa menanyakan si kecil keponakanku,dia sudah mulai belajar berjalan,pasti lucu,aku tak sabar segera menyelesaikan studyku disini dan segera berkumpul dengan keluarga,dan aku juga tak lagi mempermasalahkan jika aku tak lagi di beri uang bulanan,karna pendapatanku menjual cerpen udah lebih dari cukup untuk membiayai hidupku,aku hanya ingin membuktikan jika aku bisa,dan abah....abahlah yang selalu membalas surat-suratku,tapi aku justru merasakan jika itu umi yang membalas,dari kata-kata yang di ucapkan aku bisa merasakan jika itu umi,tapi aku mencoba membuang jauh-jauh rasa itu,mungkin saja abah sudah mulai luluh hatinya,tapi sudahlah,yang penting abah yang telah membalasnya,itu yang membuatku lebih semangat menjalani semua ini . . .semangat dari abah.
*******

Aku telah siap dengan pakaian dan semua perlengkapanku untuk acara perpisahan nanti,3 tahun tlah berlalu dan aku seneng bisa melewati ini semua,aku bangga dengan diriku,aku bisa menepati janjiku pada abah,abah pasti bangga karna nilaiku tak lagi merah dan aku akan segera meluncurkan novelku,aku tak bisa membayangkan betapa bangganya abah dan umi nanti padaku,dan pastnya abah telah janji jika abah akan datang pada perpisahanku ini dan akan menjemputku untuk pulang,batinku tersenyum di depan kaca dengan baju toga yang ku kenakan.
‘’cie..yang mau jadi penulis terkenal’’.santi meledekku
‘’iih apaan sih,aku kan jadi malu’’.kataku tersipu malu
‘’beneran tau,udah ayoo kita ke depan,pasti udah di tungguin’’.ajak santi,dan aku hanya mengiyakan saja
‘’selna..’’.efril memangilku
‘’efril..’’ku hentikan langkahku,menoleh kebelakang
‘’nggak nyangka ya,udah 3 tahun kita disini,dan kamu udah berhasil buktiin ke abahmu jika kamu bisa melewati masa-masa ini’’.katanya membarengi langkahku
‘’iya frl,aku juga nggak nyangka bisa nglakuin ini semua,’’kita pun duduk di barisan paling depan,acara demi acara telah di laksanakan ,saatnya pengumuman siswa yang berprestasi,dan ternyata namaku yang di sebutkan menjadi santri yang berprestasi,aku senang pastinya,nama orang tuaku pun di panggil tapi tak kunjung abah ataupun umi maju ke depan,aku pun lari kebelakang panggung dan efril mengejarku...
‘’selna..selna’’.efril menahanku
‘’kemana abah dengan umi fril kemana,abah udah janji akan datang hari ini,tapi nyatanya????abah mengingkari janjinya,mereka benar-benar udah nggak sayaag lagi denganku,buat apa aku nglakuin ini semua,buat apa aku mendapatkan semuanya jika abah dan umi tak turut merasakannya’’.aku mencoba tak menangis
‘’selna...trimakasih ya atas pialanya,umi bangga sama kamu’’,suara umi mengagetkanku,
‘’umi.....’’.
‘’iya sayang...selamat ya nak atas kemenanganmu,kamu udah buktiin sama kami,abahmu pasti bangga denganmu nak’’.umi mengelus kepalaku
‘’nggak umi,abah tak pernah bangga padaku,nyatanya abah tak datang untuk mengambilkan piala dan menjemputku’’,kataku tidur di antara paha umi
‘’abahmu tak pernah mengingkari janjinya nak,abahmu selalu menepati janjinya,seperti kamu,kamu tlah menepati janjimu menjadi anak ke banggaan kami nak,abahmu pasti bangga sama kamu,abahmu disana pasti melihatnya’’.kata umi
‘’maksud umi apa???’’,aku tak mengeri,mengangkat kepalaku
‘’ayahmu tlah pulang ke pangkuanNYA, sepulang dari menyambangimu,kami mengalami kecelakaan,abahmu luka parah,uang abahmu habis untuk biaya pengobatan abahmu,abahmu bilang kau tak perlu mengetahui itu semua,yang perlu kamu tau hanyalah jika abahmu sayang sama kamu,abahmu berhasil membuat kamu menjadi anak sukses nak,dengan menyekolahkan kamu ke pesantren kamu akan dapat mendoakan abahmu jika abahmu sudah tak lagi di dunia ini,abahmu memang tak pernah mengabulkan apa yang kamu inginkan,tapi abahmu mencoba memberikan apa yang kamu butuhkan,Cuma itu yang abah inginkan’’.jelas umi,tak terasa aku merasakan sesuatu mengalir di pipiku,air mata yang sekian lama tak pernah mengalir di pipiku dan kini aku meneteskannya tanpa aku menginginkannya,apakah ini saatnya aku menangis????
‘’teru surat-suratku umi????’’.
‘’umi yang membalasnya,itupun pesan dari abahmu,slama ini abahmu telah melakukan banyak hal yang kamu nggak tau nak,abahmu selalu melakukan yang terbaik untukmu,sekarang lakukan yang terbaik untuk abahmu nak,lakukan’’.kata ibu memelukku
‘’umi....’’.aku memeluk umi erat-erat, slama ini aku tlah salah menilai abah,abah menginginkan yang terbaik untukku,tapi mengapa aku mengecewakan abah,aku slalu membuatnya marah,bahkan aku sempat ingin membencinya ketika abah terlalu keras padaku,anak macam apa aku ini,abah melakukan ini semua untuk masa depanku tapi mengapa aku tak pernah menyadari ini semua,maafin selna abah maafin selna,selna janji akan jadi anak kesayangan abah...selna janji akan selalu ngebahagiain umi,bukan harta karna kesuksesanku nanti yang abah inginkan dariku,tapi doa dan bagaiman aku bisa menghargai setiap detik hembusan nafasku apa aku bisa bersyukur atas nikmat yang di berikan allah padaku,karna harta bukanlah segalanya,abah hanya menginginkan jika aku mengirimkan doa untuk abah ketika abah tlah tertidur di bawah tanah yang abadi ini untuk selama-lamanya,abah tak mau jika aku tersesat di dunia,abah hanya ingin aku bisa menikmati hasil kerja kerasku di saat tua nanti dan aku bisa mendapat bekal buat aku di akhirat nanti .

PROFIL PENULIS
Nama : Rahma Mamlu'atul Maula
Sekolah :MTsN Kanigoro
Alamat : Mojosari Kras-Kediri
Fb : Rachma Chirasstoryastra Maulla
Sumber: http://blogbustamil.blogspot.co.id/
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com